
JAYAKERTA, RAKA - SMA Islam Nurussalam membuka TPKU (Tempat Praktek Keterampilan Usaha) bidang bengkel otomotif dan sepeda motor. TPKU ini untuk menjawab kebutuhan dunia kerja, karena selama ini asumsi masyarakat cenderung menganggap pondok pesantren hanya belajar ngaji tanpa skill.
Dijelaskan Kepala SMA Islam Nurussalam, Ujang didampingi Ketua Koperasi SMA sekaligus pelaksana kursus, Dede Haris, kepada RAKA, Rabu (13/5) siang, kursus otomotif dan sepeda motor ini dibuka untuk umum, waktu pertemuan praktenya bisa diatur oleh peserta kursus. Kursus bengkel ini merupakan ekskul SMA Islam Nurussalam dan juga dibuka untuk umum.
Peralatan bengkel itu, kata Ujang, adalah bantuan dari Kementrian Koperasi UKM RI pada akhir Februari 2009 lalu. Pada kursus ini diajarkan sistem teori dan praktek selama 40 kali pertemuan dengan biaya Rp 500.000/orang. Selain perkakas, bahan kursus ini diambil dari internet dan sistem ruang belajar menggunakan proyektor.
Sementara itu, Dede menjelaskan, bengkel ini dibuka berawal dari banyaknya pesantren lain di luar daerah yang memiliki bengkel mesin. Atas kolaborasi dengan pesantren itu maka SMA Islam Nurussalam membua kursus bengkel dari bantuan pemerintah. "Kursus ini tidak hanya untuk lingkungan Nurussalam tapi bagi masyarakat luar dan kursus disini terbilang sangat murah dibanding tempat kursus lainnya yang ada di kota," kata Dede. (spn)
Showing posts with label Pendidikan/Education. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan/Education. Show all posts
Nurussalam Buka Kursus Otomotif
Thursday, May 14, 2009
posting berita pukul 7:05 PM 0 comments
Labels: Pendidikan/Education
Hari Ini, UPTD TK,SD Dengklok Tutup Kegiatan Siswa 2008-2009
Saturday, May 2, 2009
RENGASDENGKLOK, RAKA - Hari ini, usai upacara Hardiknas (Hari Pendidikan Nasional), di kantor Kecamatan Rengasdengklok, UPTD TK,SD mengelar acara penutupan kegiatan kesiswaan tahun ajaran 2008-2009. Semua siswa juara 1, 2 dan 3 O2SN (Olimpiade Olahraga dan Seni Nasional) tingkat kecamatan, juga orang tua dan muspika setempat hadir di acara ini.
Kepada RAKA, Jumat (1/5) siang, Kepala UPTD TK,SD Rengasdengklok, Drs. Muhrodi Suruzi, M.Si menjelaskan, anak yang mendapat juara O2SN di tingkat kecamatan diundang bersama orang tuanya untuk diberikan piagam penghargaan dan thropy. Acara ini sengaja di laksanakan 2 Mei, karena bertepatan dengan Hardikas. "Siapa lagi kalau bukan orang pendidikan yang memeriahkan Hardiknas. Kami sengaja mengundang orang tua murid, bermaksud memberikan pemahaman dan pengertian akan pentingnya perhatian orang tua murid pada anaknya, diantaranya mengenai peningkatan pendidikan. Kemajuan pendidikan memang tidak lepas dari 3 unsur, yaitu pemerintah, masyarakat dan orang tua murid," ucapnya.
Lebih lanjut, Muhrodi mengatakan, dalam sehari, waktu siswa lamanya bersama orang tua dan masyarakat. Dengan begitu, pada hari ini diundang semua unsur masyarakat, termasuk pemerintahan desa dan kecamatan. Menurutnya, apalah artinya sekolah dan pemerintah jika orang tua murid tidak menunjang prestasi anaknya sendiri. Meski sekolah sudah berupaya menekan agar muridnya rajin menghafal pengetahun dari buku pelajaran, tapi kalau orang tuangnya membebaskan anaknya bermain, maka tujuan sekolah tidak akan berhasil, kalau orang tua menujang maka akan menjunjang program pendidikan itu sendiri.
Di tempat sama, Penanggungjawab Pelaksanaan kegiatan, Obang Nurbayu SH, didampingi Bendahara Pelaksana Muhtar Efendi Yulias Ishak dan Sekertaris Kegiatan Kesiswaan tingkat Kecamatan Rengasdengklok, Endang Nasional S.Pd, menyatakan, pada acara ini pihaknya akan memberikan piala pada siswa berprestasi dibidang olah raga dan seni, juga lomba calistung, cerdas cermat, siswa berprestasi, kreatifitas siswa, seni lukis dan TKD (Tes Kemampuan Dasar) kelas 3. Kegiatan itu sudah dilaksanakan beberapa waktu lalu, termasuk lomba komputer, lomba mata pelajaran, siswa berprestasi dan guru berprestasi. "Kebetulan guru berprestasi di Kecamatan Rengasdengklok menjadi juara di tingakat Kabupaten Karawang, dia adalah Jayadi S.Pd, SE," kata Endang. (spn)
posting berita pukul 1:24 PM 0 comments
Labels: Pendidikan/Education
Di Sub Rayon III Karawang, 144 Siswa Ikut UN Susulan
Friday, May 1, 2009
Pelaksana UN 2008-2009 Sub Rayon III Karawang
RENGASDENGKLOK, RAKA - Di Sub Rayon III Karawang, sebanyak 144 siswa dipastikan mengikuti susulan UN (Ujian Nasional), Senin (4/5) besok. Sejumlah siswa itu tidak bisa mengikuti pelaksanaan UN 27-30 April 2009 kemarin, alasannya sakit.
Total jumlah peserta UN di 18 SMP di Sub Rayon III di wilayah Utara Karawang ini sebanyak 5.440 siswa, tapi yang melaksanakan UN utama kemarin sebanyak 5. 296 siswa dan sebanyak 144 siswa lainnya tidak mengikuti UN. Selain sakit, satu siswa SMPN 1 Rengasdengklok yang tidak ke sekolah karena tidak punya sepatu. Melihat hal itu, pihak sekolah langsung membelikan sepatu untuk siswa tersebut.
Seperti dijelaskan Ketua K3S (Kelompok Kerja Kepala Sekolah) SMP Kabupaten Karawang, juga Kepala SMPN 1 Rengasdengklok, Drs. Cucu Cuaca, kepada RAKA, Kamis (30/4) siang. Dia menceritakan, selama UN kemarin, banyak hal diluar dugaan pihak sekolah. Misalnya seorang siswa yang kesehariannya bekerja sebagai pembuat telor asin, selama hari-hari UN, dia ijin pada bosnya supaya punya banyak waktu luang untuk belajar dan mengikuti UN dengan hasil yang baik.
Kata dia, pelaksaan UN di Komiasariat Rengasdengklok aman dan secara prosedur TPI (Tim Pemantau Independen) telah melaksanakan pengawasan dengan baik. Kendati begitu, masalah kecil tetap tak bisa terelakan, semisal siswa yang salah mengisi kolom LJK (Lembar Jawaban Komputer). Selain itu ada juga beberapa siswa terlamabat masuk ruang ujian, bahkan ada siswa yang dijemput guru karena tidak punya sepatu.
Di Sub Rayon III ini terdiri dari 281 ruangan kelas yang digunakan pada saat UN. Juga 562 pengawas silang dari guru-guru sekolah dibantu guru SD. Pengawas Independen sebanyak 18 orang, masing-masing sekolah satu orang. Pada ujian susulan Senin besok, soal ujian yang akan dikerjakan beda dengan soal UN utama.
Lebar ujian susulan soalnya khusus, berbeda dengan soal pada UN utama. Jika masih ada siswa yang tidak mengikuti UN susulan, dinyatakan tidak lulus dan harus mengulang tahun berikutnya. "Boleh ikut, tapi ikut ujian paket B," ucapnya.
Disebutkannya, pada hari pertama UN yaitu ujian Bahasa Indonesia, di Sub Rayon III, tercatat 144 siswa tidak mengikuti UN, hari kedua atau pada ujian Bahasa Inggris, tercatat 138 siswa tidak mengikuti UN, hari ketika di ujian Matematika sebanyak 141 siswa absen dan hari keempat di pelajaran IPA, sebanyak 138 siswa tidak mengikuti UN. Pelaksanaan UN susulan di Sub Rayon III, lokasinya direncanakan di SMPN 1 Kutawaluya, pengawasan ujian sama seperti UN utama.
Kata Cucu, berakhirnya UN seperti perumpamaan 'bisul pecah', maksudnya beban sudah terasa ringan dan mulai habis, tinggal menyongsong ujian sekolah. "Kita tinggal melaksanakan ujian satu lagi, saya melihat ujian sekolah sudah diambang mata, pelaksanaanya ujian sekolah tanggal itu pada tanggal 11-13 Mei 2009," jelasnya.
Kepala SMPN 1 Kutawaluya, Drs. Yayat Rukhiyat menjelaskan, selama pelaksanaan UN berjalan sesuai rencana, dimana hajat yang dilaksanakan sekolah tiap tahun ini lancar. Semua unsur bekerja habis-habisan memperjuangkan siswa peserta ujian supaya bisa lulus. Selain dari upaya yang telah dilaksanakan itu, tidak luput pihak sekolah bekerja sama dengan pihak orang tua, yang ditekankan yaitu mengenai waktu belajar yang harus difasilitasi orang tua. Kemudian, pengawasan orang tua pada anaknya agar dipantau sebab dikhawatirkan terbawa pergaulan yang tak karuan. "Ada beberapa siswa yang tidak ikut UN, selain yang sakit, setelah ditelusuri ada yang bekerja di luar daerah, mayoritas mereka dari SMP Terbuka. Tahun ini kita berharap nilai UN bagus semua," ujarnya.
Ketua Komisariat Rengasdengklok, juga Kepala SMPN 1 Pedes, Mustarom mengatakan, jika pada saat UN susulan masih ada siswa sakit, maka pihaknya akan melakukan cara kedua, yaitu mendatangi rumah siswa supaya siswa bisa tetap mengerjakan soal UN di rumahnya. Tentunya, selain pihak sekolah, juga akan diawasi oleh tim pengawas independen. Dia menceritakan, di sekolahnya ada satu siswa tidak bisa ikut UN kemarin, karena kecelakaan motor, kakinya cedera hingga tak bisa berjalan kaki, lalu ada satu siswa lagi yang tidak ikut UN karena demam. "Kalau siswa itu masih sakit, dia harus dibawa keluarganya ke sekolah atau pihak sekolah yang datang ke rumahnya," imbuhnya. (spn)
posting berita pukul 12:32 AM 0 comments
Labels: Pendidikan/Education
Ebtanas Lebih Baik Dibanding UN
Thursday, April 30, 2009
KUTAWALUYA, RAKA - Kalau pemerintah mengganti UN (Ujian Nasional) dengan Ebtanas (Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional) maka akan lebih bagus. Memang UN pun sudah bagus, tapi lebih tepat sekolah yang menentukan lulus atau tidaknya siswa, hasil penilaian gurunya.
Demikian kata Kepala SMK Ristek, Drs. Darsono Sumedi, kepada RAKA, Rabu (29/4) siang. Kata dia, kalau model ujian akhir saat ini dianggap kurang adil, karena siswa yang rajin bisa tidak lulus karena sesuatu hal, tapi sebaliknya siswa nakal bisa lulus, "Menurut saya Ebtanas akan lebih baik, karena saat ini guru dan lembaga kadang merasa pesismis anaknya tidak lulus, meski sekolah sudah mempersiapkan pendalaman materi untuk menghadapi UN," ujarnya.
Kata Darsono, dibeberapa media TV dan cetak, banyak beberapa sekolah yang melakukan kecurangan saat pelaksanaan UN. Hal itu dilakukan karena pihak sekolah menginginkan siswanya lulus semua. Pada sistem Ebtanas, kelulusan siswa berdasarkan rapat guru bidang studi, wali kelas dan kepala sekolah. Pada UN, kelulusan ditentukan Departemen Pendidikan Nasional, sedangkan pihak sekolah tidak bisa berkutik.
Kendati demikian, UN di SMK Ristek berjalan dengan baik, lancar dan tak ada kendala, pihak SMK Ristek sudah komitmen UN tahun ini akan lebih baik dibanding UN tahun sebelumnya. Untuk menghadapi UN, SMK Ristek sudah mempersiapkan bimbel (bimbingan belajar) sejak awal tahun ajaran 2008-2009. Pada UN kemarin, SMK BII melaksanakan ujian menginduk ke SMK Ristek, total peserta UN kedua SMK itu menjadi 425 siswa. Dua siswa Ristek tidak ikut UN, alasannya mengundurkan diri.
Keterangan beberapa siswa kelas tiga sementara ini, mereka menganggap dirinya bisa menyelesaikan UN, meski pengawasan dari tim pengawas independen ketat, tapi tidak menurunkan semangat menyelesaikan soal dengan tepat waktu. "Kita juga berharap tahun ini bisa lulus sesuai standar yang telah ditentukan, dan yang lulus pun bisa merebut pekerjaan di perusahaan termasuk diterima di perguruan tinggi," kata Darsono.
Meski pendaftaran telah ditentukan Dinas Pendidikan yaitu akhir tahun ajaran, tapi SMK Ristek telah membuka pendaftaran gelombang pertama tanggal 1-30 Mei 2009, kemudian disusul gelombang kedua di bulan berikutnya. Penyeleksian siswa baru pun diprioritaskan tentang kesehatannya, karena sekolah kejuruan ini banyak praktek mesin, karena jika siswanya mengalami kelainan kesehatan, maka bisa berpengaruh pada saat dia menjalankan mesin. Kedua, penyeleksian siswa baru akan disesuaikan nilai untuk menentukan kejuruan yang dikehendaki siswa baru. Kejuruan yang mengtren di Karawang saat ini adalah teknik pemesinan, peminatnya paling banyak, bahkan dari jurusan ini banyak diminati perusahaan.
Jurusan kedua Otomotif dan ketiga Teknik Audio Video. Pada pertengahan semester satu, ada pemantapan jurusan, pada waktu itu kadang ada sebagian siswa yang pindah jurusan. "Pada studi banding di Bali kemarin, jurusan Audio Video di sana sangat diminati, bahkan jadi favorite, beda dengan Karawang yang masih didominasi kejuruan otomotif dan mesin," kata Darsono. (spn)
posting berita pukul 6:12 AM 0 comments
Labels: Pendidikan/Education
Pendidikan Harus Jadi Prioritas Utama
Friday, April 24, 2009
KUTAWALUYA, RAKA - Masyarakat harus menempatkan pendidikan sebagai prioritas utama dan sebuah kebutuhan diatas kebutuhan lainnya, karena dimasa yang akan datang kebutuhan kompeten pendidikan ini sangat tinggi. Segala perubahan global saat ini baru bisa dilakukan melalui pendidikan.
Demikian kata Kepala SMK Perbankan Indonesia, Bambang Pranowo kepada RAKA, Kamis (23/4) siang di ruang kerjanya. Menurutnya, tujuan pendidikan ada tiga, diantaranya psykomotor (keterampilan), kognitif (kemampuan intelektual) dan affektive (sikap). Untuk mewujudkan itu, siapapun yang ingin menimba ilmu tentunya membutuhkan biaya yang relatif, bahkan mengeluarkan biaya besar. Kendati mengeluarkan biaya, kemampuannya pun bisa terukur. Beda dengan biaya kecil yang akan mendapatkan hasil kurang memuaskan.
"Mana mungkin bisa terampil tanpa teknologi dan sarana yang mendukung, karena untuk tiga hal itu butuh biaya besar, Apalagi membentuk sikap siswa yang sebagian orang menganggapnya sulit, mendidik hal itu harus berkesinambungan, untuk itu perlu sarana pendukung untuk membentuk sikap dan siswa terampil," jelasnya.
Proses pendidikan, lanjutnya, tidak semata harus berada dalam ruang kelas atau disebut belajar klasik, karena saat ini perubahan global terus berkembang pesat dan semua termasuk siswa harus bisa mengikutinya. Ruang sekolah sangat sempit jika hanya mendidik sikap siswa. Tak jarang, selain sekolah formal banyak orang tua membawa anaknya ke pondok pesantren khusus untuk pembinaan sikap anak dari buruk ke sikap yang baik. "Pendidikan tidak hanya dalam ruang kelas, pendidikan itu kompetitif dan bersaing secara global," paparnya menceritakan perkembangan internet yang saat ini menjadi 'edutainment' atau media pendidikan siswa yang menghibur.
Sementara ini, SMK Perbankan Indonesia telah melaksanakan UN (Ujian Nasional) pada 20-22 April 2009 kemarin. Ujian di SMK ini diawali pada Februari 2009 lalu dengan melaksanakn uji kompetensi bidang produktif, setelah selesai uji kompetensi dilanjutkan uji kompetensi normatif dan adaptif, disusul ujian nasional teori kejuruan pada 24 Maret 2009 lalu. Setelah UN, sekolah ini akan melaksanakan UAS (Ujian Akhir Sekolah) di awal Mei 2009 mendatang.
Menghadapi PSB (Penerimaan Siswa Baru) SMK Perbankan Indonesia memiliki acuan 'Competitive Advantage', artinya keunggulan bersaing, yaitu memiliki agenda dalam memberdayakan potensi yang dimiliki siswa. Dengan begitu, persaingan lembaga sekolah diwujudkan dengan mengarahkan siswa menjadi individu yang punya karakter sesuai dengan kebutuhan masyarakat, termasuk interaksi yang bagus dan orientasinya luas, juga skill-nya. "Ini jadi keunggulan kita, ruang ekpresi siswa juga kita perluas dengan cara menyelenggarakan kegiatan yang sesuai dengan bakat anak itu sendiri," imbuhnya. (spn)
Education must be the Main Priority
KUTAWALUYA, RAKA - the Community must place education as the main priority and a requirement on the other requirement, because dimasa that will come the competent requirement for this education was very high. All the global changes at this time just could be carried out through education.
Was like this the headword of SMK Perbankan Indonesia, Bambang Pranowo to RAKA, on Thursday early afternoon (23/4) in his office. According to him, the aim of education was three, among them psykomotor (skills), cognitive (the intellectual's capacity) and affektive (the attitude). To create that, who that want to studied definitely needed the relative cost, in fact spent the big cost. Although spending the cost, his capacity could be then measured. Unlike the small cost that will get results was more unsatisfactory.
"How could it be that could be skilled without technology and supportive means, because for three that needed the big cost, Let Alone forming the student's attitude that some people regarded him was difficult, educated that must be continous, so needed supporting means of forming the attitude and the skilled student," he explained.
The process of education, he continued, not only must be in the classroom or was acknowledged as studying classic, because at this time the global change continued to develop fast and all must be able to including the student join him. School space was very crowded if only educated the student's attitude. Not rare, apart from the formal school of many parents brought his child to the special islamic boarding school for the management of the child's attitude from bad to the good attitude. "Education not only in the classroom, the education was competitive and competitive globally," he explained told the development of the internet that at this time to 'edutainment' or the media of the student's education that entertained.
Now this, SMK Perbankan Indonesia carried out the UN (the Nasional Exam) on April 20-22 2009 yesterday. The exam in SMK this was preceeded last February 2009 with melaksanakn the productive test of broad competence, after being finished the competence test was continued by the normative competence test and adaptif, was followed by the national exam the theory kejuruan last March 24 2009. After the UN, this school will carry out UAS (the Sekolah Final Examination) in the beginning of this coming May 2009.
Faced PSB (Acceptance of the Baru Student) SMK Perbankan Indonesia had the 'Competitive Advantage' reference, meaning that the superiority competed, that is having the agenda in empowering the potential that was owned by the student. In this way, the competition for the school agency was realised by guiding the student to the individual who had the character in accordance with the requirement for the community, including the good interaction and the orientation him was wide, also skill him. "This was our superiority, space ekpresi the student was also widened by us by means of holding the activity that in accordance with the child's talent personally," he added. (spn)
Education must be the Main Priority
KUTAWALUYA, RAKA - the Community must place education as the main priority and a requirement on the other requirement, because dimasa that will come the competent requirement for this education was very high. All the global changes at this time just could be carried out through education.
Was like this the headword of SMK Perbankan Indonesia, Bambang Pranowo to RAKA, on Thursday early afternoon (23/4) in his office. According to him, the aim of education was three, among them psykomotor (skills), cognitive (the intellectual's capacity) and affektive (the attitude). To create that, who that want to studied definitely needed the relative cost, in fact spent the big cost. Although spending the cost, his capacity could be then measured. Unlike the small cost that will get results was more unsatisfactory.
"How could it be that could be skilled without technology and supportive means, because for three that needed the big cost, Let Alone forming the student's attitude that some people regarded him was difficult, educated that must be continous, so needed supporting means of forming the attitude and the skilled student," he explained.
The process of education, he continued, not only must be in the classroom or was acknowledged as studying classic, because at this time the global change continued to develop fast and all must be able to including the student join him. School space was very crowded if only educated the student's attitude. Not rare, apart from the formal school of many parents brought his child to the special islamic boarding school for the management of the child's attitude from bad to the good attitude. "Education not only in the classroom, the education was competitive and competitive globally," he explained told the development of the internet that at this time to 'edutainment' or the media of the student's education that entertained.
Now this, SMK Perbankan Indonesia carried out the UN (the Nasional Exam) on April 20-22 2009 yesterday. The exam in SMK this was preceeded last February 2009 with melaksanakn the productive test of broad competence, after being finished the competence test was continued by the normative competence test and adaptif, was followed by the national exam the theory kejuruan last March 24 2009. After the UN, this school will carry out UAS (the Sekolah Final Examination) in the beginning of this coming May 2009.
Faced PSB (Acceptance of the Baru Student) SMK Perbankan Indonesia had the 'Competitive Advantage' reference, meaning that the superiority competed, that is having the agenda in empowering the potential that was owned by the student. In this way, the competition for the school agency was realised by guiding the student to the individual who had the character in accordance with the requirement for the community, including the good interaction and the orientation him was wide, also skill him. "This was our superiority, space ekpresi the student was also widened by us by means of holding the activity that in accordance with the child's talent personally," he added. (spn)
posting berita pukul 8:57 AM 0 comments
Labels: Pendidikan/Education
Subscribe to:
Posts (Atom)
Apa pendapat Anda tentang berita ini? komentar berita Secara otomatis, komentar yang ditulis akan masuk pada dinding Facebook Anda.
.jpg)

.jpg)