Mukron: Proyek Pemerintah Harus Diawasi Ketat
posting berita pukul 12:38 PM 0 comments
Labels: Suara Publik
Kades Murhasan: Minta Suport dari Pemerintah
"MASIH banyak tugas yang belum saya selesaikan, diantaranya yang menyangkut janji saya sat kampanye lalu, yaitu perbaikan jalan poros desa yang memang di desa ini rusak semua. Namun, semuanya akan saya perbaiki bertahap, dimulai dari pembenahan aparat sekaligus perbaikan sarana kantor desa," kata Kepala Desa Sukasari, Kecamatan Cibuaya, Murhasan Iyang, kepada RAKA, Selasa (26/5) siang di sela santunan Yapinas kepada yatim dan fakir miskin di Kampung Leuweung Eunteung.
Baru kali ini, lanjutnya, ada perbaikan jalan beton di desanya sepanjang 360 km dari total jalan yang harus diperbaiki pemerintah sekitar 5 km. Dalam janjinya saat kampanye lalu, kades mengatakan kepada masyarakat, jika dalam kurun waktu enam tahun dirinya tidak melakukan perubahan di desanya, berarti dia telah gagal memimpin. "Saya harap, pemerintah bisa mensuport permintaan warga Sukasari," katanya.
Bicara soal pertanian, Murhasan menyatakan, produksi sawah di desanya mencapai 6 ton per hektar. Meski desanya termasuk IDT (Inpres Desa Tertinggal), tapi dia mengarahkan semua sarana dan kelayakan hidup masyarakatnya bisa terpenuhi. Namun begitu, semua tak lepas dari pemerintah untuk bisa memenuhi kebutuhan masyarakatnya itu. "Jalan itu adalah saran pendukung, kalau jalannya rusak maka semua aktivitas akan terhambat. Jadi saya mohon supaya pemerintah memprioritaskan desa ini," ujarnya. (spn)
posting berita pukul 8:01 PM 0 comments
Labels: Suara Publik
Ao Ahiro: BLT Kalangsari Tidak Dipotong
"Di Desa Kalangsari tidak ada pemotongan BLT (Bantuan Langsung Tunai), sebanyak 953 KK (Kepala Keluarga) peserta BLT membawa pulang utuh uang BLT Rp 200 ribu. Sedangkan sebanyak 3.181 non BLT tidak mendapat uang hibah apapun dan mereka pun tidak menuntut," kata Kaur Kesra Desa Kalangsari, Ai Ahiro, kepada RAKA, Rabu (13/5) siang di tempat kerjanya.
Beda dengan desa lain, warga non BLT di desa ini tidak minta dibagi uang BLT, karena jika kalkulasikan non BLT cuma uang kurang dari Rp 7 ribu. Pembagian BLT tanpa pemerataan ini berdasarkan hasil musyawarah sesama warga, mengingat peserta BLT menginginkan supaya mereka mendapat uang utuh. Bahkan, diantaranya akan mengancam pihak desa jika uang mereka dipotong.
Kata Ao, seminggu sebelum BLT cair, pihaknya telah mengantisipasi dan menjelaskan kepada warga non BLT bahwa pada pembagian BLT bulan ini tidak ada pemotongan. Alhasil, hingga hari pencairan tiba, tidak ada gejolak sosial mengenai BLT, yang non BLT legowo tidak kebagian duit pemerintah tersebut. "Kalau dipotong Rp 50 ribu, non BLT hanya akan dapat Rp 7 ribu," tukasnya.
Dia bersama kepala dusun telah melakukan sosialisasi langsung ke masyarakat mengenai BLT yang tidak akan dibagi rata. Bahkan Ao tidak menginginkan ada pengaduan dari satu warga pun yang tidak punya kartu BLT untuk memperoleh uang BLT. "Tiap RT dan dusun menyatakan menjamin situasi kondusif, meski non BLT tidak dibagi uang BLT. Dan memang hasilnya kondusif," ucapnya. (spn)
posting berita pukul 7:23 PM 0 comments
Labels: Suara Publik
Camat Dedi: Tak Pantas Gakin Hibah BLT ke Keluarga Mampu
BATUJAYA, RAKA - Memang tidak pantas keluarga miskin peserta BLT (Bantuan Langsung Tunai) menghibahkan uang mereka untuk non BLT. Ini terjadi akibat sasaran BLT yang tidak sebanding dengan jumlah penduduk desa yang ada. Sehingga ada kesepakatan, peserta BLT mau menyisihkan uangnya untuk non BLT. Ini juga untuk alasan keamanan.
Demikian kata Camat Batujaya, Drs. Dedi Ahdiyat kepada RAKA, kemarin. Dia berpesan, jika peserta BLT mau menghibahkan sebagian uang yang mereka terima, maka tidak boleh ada seorang pun yang terlewat untuk mensepakatinya dengan tanda tangan, karena jika terjadi sesuatu imbasnya akan mengarah ke aparat desa dan camat. "Terutama di daerah yang usai pilkades, dimana kondisinya masih lengket dengan pro-kontra," jelasnya.
Dia juga menegaskan pada pertemuan antar desa, aturan yang sekarang diberlakukan yaitu tidak ada kolektifitas pengambilan uang tunai itu atau perwakilan, masing-masing pemegang kartu BLT harus mengambil uang tunai oleh mereka sendiri. "Yang saya khawatirkan ada biaya administrasi di desa untuk pembuatan kartu BLT yang hilang," tukasnya.
Dari DPP (Daftar Pengawasan Penyaluran) BLT, desa memberi keterangan pada peserta BLT dengan memberikan nomor urut di pojok atas kartu BLT untuk mempermudah pengecekan di kantor pos. Dan sesuai surat bupati, bagi peserta BLT manula harus diantar ke tempat pencairan. Dana hibah tiap desa di Kecamatan Batujaya vareasi, bahkan camat melarang kades menjadi panitia BLT. "Jika berdasarkan data, keluarga mampu pun ada juga yang dapat BLT. Saya harap desa hanya memantau dan Di daerah utara Karawang," katanya.
Hari pertama pencairan BLT di Kecamatan Batujaya adalah Desa Segaran dan Desa Segarjaya, Selasa (12/5), kemudian pada Rabu (13/5) pencairan dilanjutkan di Desa Batujaya dan Desa Baturaden. Dan pencairan BLT di desa lainnya dilakukan secara
posting berita pukul 6:35 PM 0 comments
Labels: Suara Publik
Saan: Pemilu Harus Diakhiri Kebersamaan
posting berita pukul 6:13 AM 0 comments
Labels: Suara Publik
BLT = Pembodohan Masyarakat
BLT = the Community's Deception
"On the one hand, this BLT policy will possibly give the positive impact for the poor community." But on the side that was other this BLT policy had the impact of the negative that is this policy will have a negative impact on the behaviour and the character of the community. This policy was very risky created the character of the community that salalu was spoilt and became the 'beggar's' nation, said the public figure Rengasdengklok, Bambang, to RAKA, on Friday early afternoon (24/4).
Moreover, the problem of the effectiveness and this policy efficiency also really was doubted. If seeing the aim, efficiency, the effectiveness and the impact that were caused by this BLT policy, the policy that was launched by this government not the policy of increasing the level of welfare of the poor community, but only aimed at maintaining the 'image' of the government in the eyes of the community. Seen from the aim of his policy, the BLT policy not the policy of the government of helping and appointing the community (increased the level of welfare) poor but only a decision of politics that was oriented to maintain the 'image' of the government in the eyes of the community.
This political policy was forced to be taken by the government in connection with increasingly the proximity of the party schedule of general election democracy 2009. Seen from efficiency, the effectiveness and the impact that were caused by the policy, the BLT policy still far from the efficient and effective category in the framework was completing poverty or even new poverty that were caused by the rise in this FUEL OIL. Efficiency and this effectiveness have been proven with the achievement produced by the BLT policy dimasa then (the BLT policy in 2005) and saw the achievement produced by the BLT policy 2005, the government has also changed this policy of becoming the policy of the Keluarga Harapan Program.
If saw in the impact that will be caused by this BLT policy, the BLT policy will not give the impact that was significant towards the condition for the poor community in Indonesia. This was caused nominal BLT that was given not balanced with the rise in the cost of living that was borne by the community as a result of the price increase of BBM. "Coba was imagined by us, the rise" in "this FUEL OIL will push the rise" in the "cost for the fulfilment" of the "requirement" for the "foundation" of the "poor community." If we compared the total rise in the community's poor cost of living nominally the BLT fund that was given, this policy will not have an impact siginifikan. Moreover, the government could not guarantee efesiensi and the effectiveness of the use of the BLT fund that was given to the community, he explained. (spn)
posting berita pukul 7:26 AM 0 comments
Labels: Suara Publik
Hari Bumi dan Demokrasi
posting berita pukul 6:24 AM 0 comments
Labels: Suara Publik


