Showing posts with label ekonomi. Show all posts
Showing posts with label ekonomi. Show all posts

Antara Kebutuhan Ekonomi dan Kenyamanan Lingkungan

Monday, April 20, 2009


RENGASDENGKLOK, RAKA - Bukan PKL (Pedagang Kaki Lima) jika tidak berjualan di pinggiran jalan raya. Meski keberadaan mereka mengganggu pengguna jalan, para PKL menganggap tuntutan ekonomi lebih penting, meski mereka harus selalu berhadapan dengan Sat Pol PP.
 
Seperti diungkapkan pedagang buahan, Amirul Falah (35), keberadaannya di atas trotar jalan bukan suatu hambatan, tapi kemudahan bagi masyarakat yang akan membeli buah-buahan. "Setiap hari kan saya pajaknya, jadi kami berhak jualan disini," ucapnya saat ditemui RAKA, Minggu (19/4) siang, sambil melayani pembeli.
 
Sementara itu, keberadaan pedagang di sepanjang jalan pun menguntungkan tukang parkir. Satu motor di tarif Rp 1000 dan para tukang parkir ini telah mengantongi ijin perparkiran. Selain tukang parkir yang resmi, yang ilegal pun banyak dan hampir ada di sepanjang jalan. "Kalau tidak dirapihkan, akan semakin macet," kata Wawan, tukang parkir di depan Shelby Plasa.
 
Di tempat terpisah, sesepuh Rengasdengklok, Yahya mengatakan, kota Proklamasi ini masih perlu penataan infrastrukturnya, artinya menata ruang Kota Rengasdengklok supaya lebih baik. Menurutnya, Kota Rengasdengklok jangan keterusan semerawut seperti sekarang, harus ada penataan, diantaranya tentang relokasi pasar. Pembangunan relokasi pasar Dengklok ini harus mendapat kesepakatan bersama, antara pemerintah dan pelaku usaha.
 
Dan ekonomi kerakyatan tetap harus berjalan, kata Yahya, terutama untuk memakmurkan para pedagang di Pasar Rengasdengklok. Kata dia, memang harusnya pasar Dengklok punya lembaga keuangan sendiri, jangan sampai rentenir menguasai pedagang. Jika ekonomi kerakyatan ini bisa berjalana baik, semua elemen termasuk pengangguran bisa usaha, apalagi mencari lepangan pekerjaan saat ini sulit. Saat ini ekonomi kerakyatan memang sudah berjalan, tapi diharap bisa lebih berkembang lagi melalui bank pasar yaitu di pasar ini harus ada lembaga keuangan yang dikelola oleh pemerintah daerah, supaya pedagang tidak terjerat rentenir. (spn)
 
 

Beras Karawang Merangkak Naik, Suplay Turun Hingga 30%

Thursday, May 1, 2008



KARAWANG, RAKA - Harga beras di Pasar Johar Karawang sudah bergerak naik sejak sepekan terakhir. Jenis super dari sebelumnya hanya dijual antara Rp 4.700 sampai Rp 4.900/kg, sekarang menjadi Rp 5.200/kg. Begitu pun untuk IR-1 awalnya paling tinggi Rp 4.500/kg, saat ini harga terendah Rp 4.600/kg. Atau tertingginya dijual Rp 4.800/kg.


Sedangkan jenis IR-2 awalnya paling mahal dijual di tingkat kios Rp 4.200/kg, sampai Selasa (29/4) sudah pada posisi harga Rp 4.500/kg. Kalau pun beras IR-2 ini kurang bagus kualitasnya, terendah dijual Rp 4.300/kg. Khusus kelas medium, seperti IR-3 yang paling banyak diburu masyarakat sekarang menjadi Rp 4.000-an/kg.


Padahal sepekan lalu masih bisa dibeli seharga Rp 3.800/kg. Naiknya harga beras yang mendadak tinggi ini, menurut pemilik kios Sriwijaya di Pasar Beras Induk Johar, H. Darim, dipicu oleh berkurangnya pasokan beras yang masuk pasar ini hingga 30% dari biasanya.


Selain itu, sejak diberlakukannya Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah per 22 April lalu menjadi pemicu naiknya harga gabah di tingkat petani. Akibat harga gabah terus bergerak naik hingga sekarang, menurut H. Darim, membuat petani Karawang yang baru memanen banyak yang menahan gabahnya. Dengan harapan, gabah mereka masih akan terus naik. "Kalau petani untuk sementara tidak mau menjual gabah, otomatis suplay beras yang masuk pasar berkurang. Dampaknya hukum pasar terjadi," ungkap H. Darim.


Selain itu, tambah dia, hasil produksi gabah petani musim panen kali ini menurun drastis. Bahkan penurunan produksinya hingga 50%. Penyebabnya, secara merata tanaman padi terserang hama. "Itu beberapa faktor yang membuat suplay beras yang masuk Pasar Beras Johar berkurang. Antara demand dan suplay tidak seimbang. Wajar kalau kemudian harga beras naik," tandas H. Darim.


Penyebab lain yang dapat mempengaruhi harga beras di pasar naik, sambung dia, cakupan panen di wilayah Kabupaten Karawang hampir habis. Sedangkan kiriman dari luar daerah di luar Jawa Barat, masih mandeg. Ditambah sejak kenaikan HPP, kabar yang ia peroleh Sub Divre Bulog Karawang-Bekasi sudah mulai dapat menyerap beras petani langsung melalui mitra kerjanya.


"Akibat pasokan berkurang, kita juga di sini sedikit kesulitan memenuhi stok penjualan, terutama untuk dikirim ke luar daerah, terutama Pasar Cipinang Jakarta. Jadi lebih banyak santai seperti ini. Mudah-mudahan sih secepatnya normal kembali. Kendati untuk harga beras dalam kondisi sekarang sulit diprediksi bisa secepatnya turun. Tapi kalau bicara secara umum, naiknya harga beras juga berpengaruh ke petani-petani juga," ujar H. Darim lagi.


Sementara itu, dalam waktu bersamaan, Ketua Komisi B DPRD Budiwanto, S.Si, MM, yang melakukan sidak di pasar Johar kemarin, mengungkapkan bahwa ia minta Bulog segera mengantisipasi harga beras di pasaran jangan sampai terus dibiarkan bergerak sendiri. Sebab bila itu tanpa kendali, ia khawatir harga beras di pasaran bergerak tanpa kendali. Apalagi disaat suplay dan demand sudah tidak seimbang.


"Pergerakan harga beras di pasar harus terus dimonitoring. Sehingga ketika ada gejolak harga yang tidak rasional, atau melambung terlalu tingi, pemerintah melalui Bulog melakukan operasi pasar. Dan kami minta Bulog juga bisa menjamin ketersediaan stok hingga pada batas yang aman. Masalahnya, beras bagi petani di sini cukup unik. Produsen sekaligus konsumen. Jadi kalau harga beras naik, malah petani sendiri yang terkena dampak," ujar Budiwanto.


Di tempat terpisah, anggota Komisi B Rajendhiren saat usai mengikuti rapat paripurna DPRD tentang LKPJ bupati tahun anggaran 2007, kemarin, mengungkapkan, bahwa kenaikan harga beras bukan hanya terjadi di tanah air. Tapi juga di Malaysia harga beras telah tembus ke angka Rp 8.000-an/kg. Malah di negara-negara Afrika, kabar yang diterima Rajendhiren menyebutkan, harga beras sampai Rp 12.000-an/kg.


"Di Amerika Serikat saja kabarnya beras sudah mulai dijatah. Ini sudah jadi sejarah dunia. Oleh karenanya bila pemerintah kita mau mengekspor beras, terus terang harus dapat dicegah. Kendati dari perhitungan bisnis sangat menggiurkan, tapi kepentingan bangsa jauh di atas segala-galanya. Kita harus dapat mengamankan stok beras nasional bukan hitungan hari. Tapi butuh durasi panjang," ujar Rajendhiren mengingatkan. (Alvino-Radar Karawang)

Kepala Desa Tertibkan Penjualan Minah

Wednesday, April 23, 2008

BATUJAYA, RAKA - Ribut-ribut warga tidak kebagian minyak tanah yang dijual pangkalan memaksa Kepala Desa Kuta Ampel, Kecamatan Batujaya, Mad Guntur Ukar Sutadiwirya turun tangan. Dia melakukan musyawarah antar warga, pemilik pangkalan dan kepala dusun.Hasilnya memuaskan, satu dari beberapa pangkalan akan mendrop minyak tanahnya sebanyak 2.975 liter khusus untuk masyarakat setempat.

Jumlah itu disesuai dengan banyak warga yang membutuhkan dan berarti 3 liter per rumah. "Pembagian 3 liter ini dihitung per rumah, tidak berdasarkan kepala keluarga (KK), karena jika pembagian dihitung tiap KK, kemungkinan tidak akan mencukupi," ungkap Ukar.

Sebab, menurut dia, tidak menutup kemungkinan tiap rumah ada 2-4 KK. Setelah dirinci kebutuhan masyarakat ini, salah satu pangkalan yaitu KSU Setiawan di Dusun Lolohan I, RT 06/01 di desa ini, mengeluarkan sebanyak 2.975 liter untuk masyarakat, sedangkan sisanya dijual di desa lain. Sementara, pembeli untuk keceran tidak dilayani.

Kata Mad Guntur saat ditemui RAKA, Juma (18/4) siang di kediamannya menjelaskan, untuk mengendalikan masyarakat yang rebutan minyak tanah di desanya, maka pihaknya membuat kartu kendali penerima minyak tanah dari pangkalan tersebut. Supaya lebih rapih dan adil, hasil keputusan desa dengan pihak pangkalan, penyalurannya dibagi dua kali dalam seminggu. Yaitu Selasa untuk Dusun Lolohan I dan Dusun Pisang Sambo, sedangkan pada Kamis dibagi untuk warga Dusun Lolohan II, Gamprit dan Dusun Tangkil.

Minyak yang dibagikan kepada warga ini sejumlah 13 drum, yaitu 215 liter/drum atau jumlah minyak yang didrop per hari sekitar 2.975 liter yang dibagikan pada tiap-tiap rumah jika warga yang bersangkutan tidak sempat mendatangi lokasi pangkalan. Jadi, pembagian minyak tanah di desa ini tidak lagi ribut setelah kepala desa setempat memiliki gagasan untuk membuat kartu pengendali penerima minyak tanah.

Meski demikian, di desa ini keberadaan minyak sama seperti di desa lainnya, yakni sedikit.Pada Mei 2008 mendatang, beberapa pangkalan lainnya pun akan melakukan hal serupa, yaitu mendahulukan pembelinya dari masyarakat, bukan dari pengecer minyak tanah. Namun begitu, Mad Guntur masih menyisakan keprihatinan pada warganya, karena jika dihitung-hitung, setiap rumah tidak akan cukup menggunakan minyak tanah sebanyak 3 liter untuk seminggu.

"Idealnya, seminggu setiap rumah butuh enam liter minyak tanah," ucapnya.Di desa ini, tercatat 1.934 rumah, 1.435 Rumah Tangga Miskin (RTM), 2.580 KK se-Desa Kuta Ampel. Hasil minggon kecamatan Selasa kemarin, kata Guntur, camat telah menginformasikan, semua desa di kecamatan ini akan mendapat 1.000 tabung gas elpiji ukuran 3 kg.

Namun, semua kepala desa menolak jika tabung itu diturunkan sebelum jumlahnya ditambah melebihi 1.000 tabung, karena jumlah rumah warga di tiap desa melebihi 1.000 rumah. "Di Desa Kuta Ampel saja RTM tercatat 1.435, kalau ada pembagian 1.000 tabung gas, berarti kurang 435 tabung lagi. Dan meski jumlahnya kecil, tetap akan terjadi polemik bagi desa," ujarnya. (spn)

Warga Dengklok Ultimatum Pemerintah, Soal Konversi Minah ke Gas Elpiji

Thursday, April 17, 2008

Antrian warga minyak tanah di Rengasdengklok.



RENGASDENGKLOK, RAKA - Masyarakat Dengklok mengultimatum pemerintah mengenai rencana pemberlakukan penggunaan gas elpiji bagi masyarakat. Mereka tidak keberatan asalkan elpiji tidak bernasib seperti minyak tanah.


"Kami siap menggunakan gas elpiji menyusul konversi minyak tanah ke gas asalkan harganya masih bisa terjangkau dan tidak langka seperti minyak tanah," kata Udin (55) warga Desa Karyasari, Kecamatan Rengasdengklok saat antrian minah di pangkalan PT. Sandika Pratama, Desa Amansari, Jumat (11/4) siang.


Diakuinya, penggunaan bahan bakar ini tidak jauh beda dan sama-sama dibutuhkan. Tetapi jika minyak tanah sudah dialihkan ke gas elpiji harganya harus terjangkau oleh masyarakat miskin. Dan tidak sulit dicari seperti sulitnya mencari minyak tanah saat ini," kata Udin.


Seperti diketahui, beberapa kabupaten di propinsi lain yang kini sudah menggunakan gas elpiji kadang sulit mencari elpiji. Malah acap kali kesulitan tersebut berbuntut ricuh dan menjadi masalah baru. "Nah, kami tidak mau yang seperti itu terjadi di Karawang. Jangan sampai setelah beralih ke gas, tiba-tiba gas kembali langka," ucap Udin lagi.


Kendati demikian dia percaya kepada kebijakan pemerintah. Meski terkadang juga membuat kesal. "Kami percaya pada pemerintah yang mengatur semua itu. Mudah-mudahan di Karawang nanti tidak akan terjadi kelangkaan gas elpiji setelah kita kelelahan dengan minyak tanah," katanya.


Antrian minyak tanah yang kerap terjadi baru-baru ini diakui beberapa warga sangat melelahkan. Tidak cukup sejam mereka menunggu untuk bisa mendapatkan 3-5 liter sesuai yang ditentukan pihak pangkalan. Bahkan, sebelum datang mobil tanki, warga sudah berjubel dipangkalan sambil menenteng jerigen, sementara pihak pangkalan mengabsen warga. Karena jatah yang dikeluarkan pangkalan hanya dibatasi 20 persen untuk warga dengan harga Rp 2300 perliter dari jumlah total satu tanki.


Namun, beberapa warga yang ditanya menyebutkan, ada saja pangkalan yang berani menjual hingga Rp 3000, dan hingga kini pangkalan tersebut sepi dari minyak tanah. Warga menduga, ijin pangkalan itu dicabut karena menjual harga diatas ketentuan. Sementara, harga minyak tanah di beberapa warung sudah terbilang tinggi, berkisar Rp 3500-3800 per liter. Namun karena butuh, warga tetap saja membeli.


Dengan dijualnya minyak murah Rp 2300 per liter. Seperti yang dijual hampir semua pangkalan adalah kesempatan bagi warga, meski antri tiga jam, mereka rela asalkan dapat jatah 20 persen minyak yang dibagikan pangkalan.Di tempat sama, penjaga pangkalan minyak tampak sibuk, beberapa pegawainya tiada henti meliter minyak tanah pada jerigen warga.


Di pangkalan seberang terminal Rengasdengklok ini antriannya tidak menggunakan kupon atau tali yang dipasang memanjang, melainkan hanya diabsen. Warga yang namanya dipanggil langsung memberikan jerigen setelah dia menunggu lama. Sementara yang tidak terdaftar berharap kebagian sisa jatah 20 persen itu.


"Punten ya ibu-ibu, bapak-bapak kami hanya menyediakan lima drum. Yang tidak terdaftar tunggu sisanya saja ya," teriak penjaga pangkalan minyak kepada warga yang berdesakan berharap mendapat sisa minyak tanah, meski seliter. (spn)

Warga Bekasi Belanja di Dengklok

Sunday, March 9, 2008


RENGASDENGKLOK, RAKA - 70 persen masyarakat Kecamatan Pebayuran, Kabupaten Bekasi melakukan transaksi jual-beli di pasar Rengasdengklok. Kedua daerah ini hanya dibatasi sungai Citarum dan akses penyeberangan warga setempat hanya menggunakan perahu eretan. Sedangkan warga sangat mengharapkan jembatan penyeberangan permanen di antara Desa Rengasdengklok Selatan, Karawang dan Desa Sumbersari, Bekasi.

Dilihat, Desa Sumbersari dan Desa Karang Haur, Kecamatan Pebayuran, Bekasi sebagian warganya berdagang di kota Rengasdengklok. Dengan begitu, kedua kabupaten antara Karawang-Bekasi yang terpisah bentangan sungai Citarum merupakan tonggak ekonomi yang tidak terpisahkan.

Beberapa warga di Desa Karang Haur, Kecamatan Pebayuran, Kabupaten Bekasi mengatakan, sejak lama masyarakat di kedua kabupaten tersebut mendambakan lintasan sungai yang efesien, yakni jembatan penyeberangan. Sekarang, yang menjadi jasa penyeberangan masih dilakukan perahu. Perahu swadaya masyarakat ini tiada henti melintasi Citarum.

Hanya dengan ongkos Rp 1000 warga bisa menyebrang aman dengan kendaraan sepeda motornya maupun mobil pribadi dan truk. Seorang warga Kecamatan Pebayuran yakni Yono (35) mengatakan, dengan adanya perahu eretan yang digunakan jembatan kedua masyarakat di dua kabupaten ini sangat membatu masyarakat. "Untuk mencapai Pasar Cikarang sangat jauh, lebih dekat ke pasar Rengasdengklok, jadi kita membeli segala keperluan ke pasar Rengasdengklok," katanya kepada RAKA, Rabu (22/11) siang.

Sementara, pemilik perahu eretan yakni Suhenda (43) menyatakan, perahu yang mereka gunakan harganya mencapai 40 juta-an. Jadi, sangat kuat dan mampu menyeberangkan kendaraan truk tanpa muatan. "Namun, yang boleh melewati jembatan ini harus truk kosong jangan ada muatannya, kecuali mobil pribadi yang kecil, karena kita sekaligus menyebrangkan sepeda motor dan lainnya," ujarnya.

Di atas perahu penyeberangan, seorang pekerja lainnya memaparkan, dalam waktu sehari, sedikitnya penghasilan perahu eretan itu sebesar Rp 500 ribu untuk dua perahu dengan pemilik perahu yang sama. "Selain untuk upah yang 'ngeret' (narik perahu dengan tambang, red) ada kas khusus untuk perbaikan perahu," katanya sambil memperhatikan tali tambak yang dia tarik.

Sementara, air Citarum yang naik dan surut pun sudah bisa diantisipasi para pekerja penarik jasa penyeberangan tersebut. Juga, para pekerja pun mengoptimalkan kenyamanan bagi pengguna jasa perahu itu. Misal mereka menabur dedek pada tanah yang licin di sekitar sungai, supaya warga tidak tergelincir saar naik dan turun dari perahu.

Jika di lokasi belakang Tugu Proklamasi ini dibangun jembatan besar, tidak menutup kemungkinan pasar Rengasdengklok akan lebih ramai dibanding sekarang dan pertumbuhan ekonomi kota Rengasdengklok akan cepat berkembang. Kendati begitu, tentunya akan menuai permasalahan baru,karena saat ini saja, pasar Rengasdengklok belum terawat baik dan masih semerawut. (spn)

Warga Dengklok Gunakan Kayu Bakar, Menyusul Raibnya Minyak Tanah Dari Daerah Itu

Sunday, December 30, 2007


RENGASDENGKLOK, RAKA - Setelah lama melupakan kayu bakar kini masyarakat Rengasdengklok kembali menggunakan jenis bahan bakar tersebut untuk memasak. Hal itu dilakukan menyusul menghilangnya minyak tanah dari daerah tersebut sejak sepekan terakhir.

Warga setempat mengaku, kelangkaan minyak tanah ini tidak logis dan menilai hal itu berkaitan dengan konversi minyak tanah ke gas. "Jika akan diadakan konversi minyak tanah, sebaiknya bahan bakar yang sudah menahun digunakan masyarakat itu tidak berkurang secara drastis, karena merugikan ekonomi masyarakat," ungkap Asep, warga Dengklok.

Seorang pengecer minyak tanah di Dusun Bakanjati, RT 44/19 Desa Karyasari, Rengasdengklok, Sukardi (55) mengungkapkan, sudah beberapa hari ini kiriman minyak tanah berkurang. Biasanya, setiap hari warung kecilnya di tengah pemukiman penduduk ini di drop 40 liter minyak tanah tiap hari. Namun, sebulan ini jumlah tersebut dikurangi menjadi 20 liter per hari. Dan beberapa hari ini, warungnya nyaris tidak lagi didrop minyak tanah, alasanya minyak langka. "Sekarang masyarakat kebingungan dan beberapa tetangga kembali mencari kayu bakar," katanya kepada RAKA, Minggu (30/12) siang.

Diakuinya, beberapa warga sudah banyak yang menggunakan bahan bakar gas, tapi lebih banyak lagi yang menggunakan minyak tanah, ini karena ekonomi masyarakat setempat yang bisa membeli bahan bakar dengan mengecer. Namun, dengan kelangkaan minyak tanah di kampungnya ini, Sukardi sangat menyayangkan jika pemberlakukan konversi minyak ke gas dibarengi dengan kelangkaan minyak tanah secara total.

Katanya, kelangkaan minyak tanah ini sempat dispekulasi oleh agen penjual, tentunya ini dua kali kerugian yang dialami masyarakat. Jika pemerintah tidak bisa mengantisipasi kelangkaan ini, kemungkinan akan terjadi gejolak sosial di masyarakat, karena minah merupakan kebutuhan umum masyarakat. "Saya ingin minyak tanah jangan langka, karena konversi di Karawang belum berlaku," ujarnya.

Sementara, harga jual minyak tanah oleh pengecer di pasaran Rengasdengklok berkisar Rp 2.800 per liter. Namun, di beberapa wilayah Utara Karawang, seperti Pakisjaya dan Batujaya, harga minyak tanah dijual pengecer hingga Rp 3.500. Harga tinggi ini, karena pengecer mencari minyak tanah hingga puluhan kilo meter. Kendati begitu, warga yang sangat membutuhkan minyak tanah tidak komplen ke pengecer malainkan komplen ke pemerintah yang dianggap tidak bisa menyeimbangkan ekonomi masyarakat bawah.

Dilihat, beberapa hari lalu, agen minyak tanah di seputar wilayah Utara Karawang dipadati pengecer yang antri menunggu dengan puluhan jerigen minyak tanah. Beberapa diantaranya harus berjam-jam menunggu bagian minyak tanah. Sebagian pengecer yang lain, mencari agen minyak tanah di tempat lain. Namun, semua agen kondisinya serupa, yakni kekurangan jumlah minyak tanah meski pengecer banyak yang antri.

Seorang ibu rumah tangga, Rumiyati (35) menyatakan, beberapa hari ini dirinya kesulitan mencari minyak tanah. Sambil menunjukan jerigen, dari kebutuhan 2 liter perhari, saat ini hanya bisa beli seliter, kerena di pengecernya sudah kehabisan. "Biasanya, saya simpan jerigen kosong di warung, jadi kalau mereka dikirim minyak jerigen saya diisi, kalau tidak begini saya sulit mendapat minyak tanah, meski seliter juga tidak apa-apa," katanya. (spn)

Apa pendapat Anda tentang berita ini? komentar berita Secara otomatis, komentar yang ditulis akan masuk pada dinding Facebook Anda.
 
 
 
 
Copyright © BeritaKarawang.com | Space iklan logo Rp 200 ribu sebulan
Karawang, Jawa Barat, Indonesia, 085691309644, beritakarawang@gmail.com | Asep Saepudin Hasan