Antara Kebutuhan Ekonomi dan Kenyamanan Lingkungan
posting berita pukul 6:26 AM 0 comments
Labels: ekonomi
Beras Karawang Merangkak Naik, Suplay Turun Hingga 30%
KARAWANG, RAKA - Harga beras di Pasar Johar Karawang sudah bergerak naik sejak sepekan terakhir. Jenis super dari sebelumnya hanya dijual antara Rp 4.700 sampai Rp 4.900/kg, sekarang menjadi Rp 5.200/kg. Begitu pun untuk IR-1 awalnya paling tinggi Rp 4.500/kg, saat ini harga terendah Rp 4.600/kg. Atau tertingginya dijual Rp 4.800/kg.
posting berita pukul 3:05 PM 0 comments
Labels: ekonomi
Kepala Desa Tertibkan Penjualan Minah
BATUJAYA, RAKA - Ribut-ribut warga tidak kebagian minyak tanah yang dijual pangkalan memaksa Kepala Desa Kuta Ampel, Kecamatan Batujaya, Mad Guntur Ukar Sutadiwirya turun tangan. Dia melakukan musyawarah antar warga, pemilik pangkalan dan kepala dusun.Hasilnya memuaskan, satu dari beberapa pangkalan akan mendrop minyak tanahnya sebanyak 2.975 liter khusus untuk masyarakat setempat.
Jumlah itu disesuai dengan banyak warga yang membutuhkan dan berarti 3 liter per rumah. "Pembagian 3 liter ini dihitung per rumah, tidak berdasarkan kepala keluarga (KK), karena jika pembagian dihitung tiap KK, kemungkinan tidak akan mencukupi," ungkap Ukar.
Sebab, menurut dia, tidak menutup kemungkinan tiap rumah ada 2-4 KK. Setelah dirinci kebutuhan masyarakat ini, salah satu pangkalan yaitu KSU Setiawan di Dusun Lolohan I, RT 06/01 di desa ini, mengeluarkan sebanyak 2.975 liter untuk masyarakat, sedangkan sisanya dijual di desa lain. Sementara, pembeli untuk keceran tidak dilayani.
Kata Mad Guntur saat ditemui RAKA, Juma (18/4) siang di kediamannya menjelaskan, untuk mengendalikan masyarakat yang rebutan minyak tanah di desanya, maka pihaknya membuat kartu kendali penerima minyak tanah dari pangkalan tersebut. Supaya lebih rapih dan adil, hasil keputusan desa dengan pihak pangkalan, penyalurannya dibagi dua kali dalam seminggu. Yaitu Selasa untuk Dusun Lolohan I dan Dusun Pisang Sambo, sedangkan pada Kamis dibagi untuk warga Dusun Lolohan II, Gamprit dan Dusun Tangkil.
Minyak yang dibagikan kepada warga ini sejumlah 13 drum, yaitu 215 liter/drum atau jumlah minyak yang didrop per hari sekitar 2.975 liter yang dibagikan pada tiap-tiap rumah jika warga yang bersangkutan tidak sempat mendatangi lokasi pangkalan. Jadi, pembagian minyak tanah di desa ini tidak lagi ribut setelah kepala desa setempat memiliki gagasan untuk membuat kartu pengendali penerima minyak tanah.
Meski demikian, di desa ini keberadaan minyak sama seperti di desa lainnya, yakni sedikit.Pada Mei 2008 mendatang, beberapa pangkalan lainnya pun akan melakukan hal serupa, yaitu mendahulukan pembelinya dari masyarakat, bukan dari pengecer minyak tanah. Namun begitu, Mad Guntur masih menyisakan keprihatinan pada warganya, karena jika dihitung-hitung, setiap rumah tidak akan cukup menggunakan minyak tanah sebanyak 3 liter untuk seminggu.
"Idealnya, seminggu setiap rumah butuh enam liter minyak tanah," ucapnya.Di desa ini, tercatat 1.934 rumah, 1.435 Rumah Tangga Miskin (RTM), 2.580 KK se-Desa Kuta Ampel. Hasil minggon kecamatan Selasa kemarin, kata Guntur, camat telah menginformasikan, semua desa di kecamatan ini akan mendapat 1.000 tabung gas elpiji ukuran 3 kg.
Namun, semua kepala desa menolak jika tabung itu diturunkan sebelum jumlahnya ditambah melebihi 1.000 tabung, karena jumlah rumah warga di tiap desa melebihi 1.000 rumah. "Di Desa Kuta Ampel saja RTM tercatat 1.435, kalau ada pembagian 1.000 tabung gas, berarti kurang 435 tabung lagi. Dan meski jumlahnya kecil, tetap akan terjadi polemik bagi desa," ujarnya. (spn)
posting berita pukul 7:44 PM 2 comments
Labels: ekonomi
Warga Dengklok Ultimatum Pemerintah, Soal Konversi Minah ke Gas Elpiji
Antrian warga minyak tanah di Rengasdengklok.
posting berita pukul 5:38 PM 0 comments
Labels: ekonomi
Warga Bekasi Belanja di Dengklok
posting berita pukul 3:43 PM 0 comments
Labels: ekonomi
Warga Dengklok Gunakan Kayu Bakar, Menyusul Raibnya Minyak Tanah Dari Daerah Itu
Warga setempat mengaku, kelangkaan minyak tanah ini tidak logis dan menilai hal itu berkaitan dengan konversi minyak tanah ke gas. "Jika akan diadakan konversi minyak tanah, sebaiknya bahan bakar yang sudah menahun digunakan masyarakat itu tidak berkurang secara drastis, karena merugikan ekonomi masyarakat," ungkap Asep, warga Dengklok.
Seorang pengecer minyak tanah di Dusun Bakanjati, RT 44/19 Desa Karyasari, Rengasdengklok, Sukardi (55) mengungkapkan, sudah beberapa hari ini kiriman minyak tanah berkurang. Biasanya, setiap hari warung kecilnya di tengah pemukiman penduduk ini di drop 40 liter minyak tanah tiap hari. Namun, sebulan ini jumlah tersebut dikurangi menjadi 20 liter per hari. Dan beberapa hari ini, warungnya nyaris tidak lagi didrop minyak tanah, alasanya minyak langka. "Sekarang masyarakat kebingungan dan beberapa tetangga kembali mencari kayu bakar," katanya kepada RAKA, Minggu (30/12) siang.
Diakuinya, beberapa warga sudah banyak yang menggunakan bahan bakar gas, tapi lebih banyak lagi yang menggunakan minyak tanah, ini karena ekonomi masyarakat setempat yang bisa membeli bahan bakar dengan mengecer. Namun, dengan kelangkaan minyak tanah di kampungnya ini, Sukardi sangat menyayangkan jika pemberlakukan konversi minyak ke gas dibarengi dengan kelangkaan minyak tanah secara total.
Katanya, kelangkaan minyak tanah ini sempat dispekulasi oleh agen penjual, tentunya ini dua kali kerugian yang dialami masyarakat. Jika pemerintah tidak bisa mengantisipasi kelangkaan ini, kemungkinan akan terjadi gejolak sosial di masyarakat, karena minah merupakan kebutuhan umum masyarakat. "Saya ingin minyak tanah jangan langka, karena konversi di Karawang belum berlaku," ujarnya.
Sementara, harga jual minyak tanah oleh pengecer di pasaran Rengasdengklok berkisar Rp 2.800 per liter. Namun, di beberapa wilayah Utara Karawang, seperti Pakisjaya dan Batujaya, harga minyak tanah dijual pengecer hingga Rp 3.500. Harga tinggi ini, karena pengecer mencari minyak tanah hingga puluhan kilo meter. Kendati begitu, warga yang sangat membutuhkan minyak tanah tidak komplen ke pengecer malainkan komplen ke pemerintah yang dianggap tidak bisa menyeimbangkan ekonomi masyarakat bawah.
Dilihat, beberapa hari lalu, agen minyak tanah di seputar wilayah Utara Karawang dipadati pengecer yang antri menunggu dengan puluhan jerigen minyak tanah. Beberapa diantaranya harus berjam-jam menunggu bagian minyak tanah. Sebagian pengecer yang lain, mencari agen minyak tanah di tempat lain. Namun, semua agen kondisinya serupa, yakni kekurangan jumlah minyak tanah meski pengecer banyak yang antri.
Seorang ibu rumah tangga, Rumiyati (35) menyatakan, beberapa hari ini dirinya kesulitan mencari minyak tanah. Sambil menunjukan jerigen, dari kebutuhan 2 liter perhari, saat ini hanya bisa beli seliter, kerena di pengecernya sudah kehabisan. "Biasanya, saya simpan jerigen kosong di warung, jadi kalau mereka dikirim minyak jerigen saya diisi, kalau tidak begini saya sulit mendapat minyak tanah, meski seliter juga tidak apa-apa," katanya. (spn)
posting berita pukul 9:36 PM 0 comments
Labels: ekonomi

.jpg)
