Showing posts with label peristiwa. Show all posts
Showing posts with label peristiwa. Show all posts

BRI Unit di Cikampek Dirampok

Tuesday, January 12, 2010

BeritaKarawang.com - Kawanan perampok bersenjata golok menggasak uang Rp 350 juta dari BRI Unit Purwasari di Desa Dawuan Barat, Kecamatan Cikampek, Selasa (12/1/2010) dini hari.

Seorang penjaga kantor BRI unit Purwasari, Edi Santoso (47) mengaku, dirinya tidak berkutik ketika diancam oleh tiga perampok yang masing-masing membawa golok. Edi kemudian disandra dengan kedua tangan dan kakinya diikat.

Setelah Edi tidak berdaya, para pelaku kemudian masuk ke dalam kantor BRI melalui pintu belakang yang berhasil mereka rusak. Perampok lalu menjebol brankas yang didalamnya diperkirakan bersisi uang Rp 350 juta.

Sebelum menjebol brankas, para pelaku terlebih dahulu mengobrak-abrik isi kantor BRI, termasuk lemari. Diakui Edi, setelah perampok membawa lari uang dari brankas, dia kemudian berusaha membuka ikatan tali yang melilit kencang pada kaki dan tangannya.

Setelah lepas dari jeratan, Edi memberitahukan kejadian itu kepada warga dan melapor ke Polsek Cikampek. Hingga siang tadi Polisi masih menyelidiki kejadian tersebut. (sumber: AntaraNews)

Main-main, Tangan Masuk Minyak Panas, Ilham Kelojotan

Wednesday, December 9, 2009

BeritaKarawang.com - Perhatian bagi semua orang tua, jangan sesekali menyimpan minyak sayur panas dalam kwali di bawah kompor, karena bisa berbahaya. Seperti yang menimpa Ilham (3) warga Kampung Kepuh, RT 02/07, Desa Medang Asem, Jayakerta, tangannya melepuh akibat masuk ke minyak panas.


Dituturkan ayahnya, Muhamad Winata (30) Rabu (9/12/2009) pukul 10.15 WIB di Puskesmas Medang Asem. Kejadian itu menimpa anaknya Senin (7/12/2009) pukul 16.00 WIB, ketika sedang bermain-main, Ilham terpeleset dan tangannya masuk minyak panas.


Kata Winata, minyak sayur yang masih panas itu bekas menggoreng ikan. Biasanya minyak disimpan di atas kompor, tapi saat itu nenek Ilham menyimpannya di bawah kompor.


Siang ini, kondisi tangan Ilham masih dalam pengawasan medis, sudah dua kali sejak kemarin, perban putih yang membungkus telapak tangannya diganti secara intensif. (*)

Mobil Kereta Rekreasi Tercebur, Satu Tewas

Sunday, November 29, 2009

Kondisi mobil kereta yang rusak setelah dianggkat dari sungai.



Situasi lokasi kejadian.


Sisa gerbong mobil kereta rekreasi yang diamankan Polsek Rengasdengklok.


BeritaKarawang.com -
Satu orang tewas, belasan lainnya luka-luka akibat mobil kereta tercebur di Jalan Cikangkung, Desa Kertasari, Kecamatan Rengasdengklok, Minggu (29/11/2009) pukul 17.30 WIB. Penyebab terceburnya mobil kereta itu diduga akibat sambungan gandengan terlepas.


Saksi mata menjelaskan, mobil kereta itu melaju dari arah Batujaya masuk ke Jalan Poros Desa Kertasari, namun tiba-tiba salah satu bagian mobil kereta yang digandeng lepas dan tercebur ke sungai. "Sebelum tercebur, para penumpang berteriak dan mengagetkan kami," ujar Azis Ketua RT Setempat.


Menurutnya, pada saat kejadian satu bagian mobil yang terlepas itu tengah memuat puluhan penumpang. Nahas, bagian gandengan kendaraan paling belakang ketika kendaraan berbelok diduga tak kuat menahan beban dan langsung meluncur ke arah sungai yang debit airnya tengah tinggi.


" Banyak penumpangnya yang tenggelam akibat terjepit badan mobil di dalam air. Sementara kami langsung berusaha menyelamatkan penumpang bersama warga lainnya," jelasnya.


Seketika itu, kata dia, ratusan warga pun ikut berhamburan ke lokasi terceburnya kendaraan untuk mentyelamatkan korban lainnya.. Dari puluhan penumpang, warga baru bisa menyelamatkan satu orang yang terjepit dibadan kereta. " Korban langsung di bawa ke pusat pelayanan kesehatan terdekat. sedangkan pengemudi langsung diamankan ke Mapolsek Rengasdengklok." tambah Azis.


Saksi mata lainnya, Boim (34) mengatakan masih ada beberapa penumpang lainnya yang belum bisa diselamatkan warga. " Kami telah melaporkan hilangnya penumpang yang ikut tercebut pada aparat polisi Mapolsek Rengasdengklok."sebut Boim.


Informasi yang dihimpun, mobil yang disulap jadi mirip kendaraan kereta tersebut dilaporkan milik satu tempat hiburan pasar malam yang tengah beroperasi di wilayah Desa Kertasari Rengasdengklok. Sampai berita ini dibuat (pukul 19.30 WIB), penduduk setempat bersama petugas masih melakukan pencarian di tempat kejadian perkara. Sementara, korban yang sudah dievakuasi langsung dilarikan ke Rumah Sakit Proklamasi Dengklok.


Dibagian lain, para penumpang yang selamat langsung dipulangkan setelah sebelumnya dimintai keterangan. Sepanjang petang kemarin, petugas masih tampak berjaga-jaga. (*)

Rumah Tukang Becak Ludes Dilalap Api

Wednesday, October 14, 2009



KUTAWALUYA, RAKA - Tragis nasib yang dialami seorang penarik becak, Akun (46) warga RT 01/01, Desa Kutajaya, Kecamatan Kutawaluya, rumahnya ludes dilalap api, Selasa (13/10) pukul 00.30 WIB. Saat kejadian, bapak satu anak ini sedang diluar rumah, sedangkan istrinya di luar negeri sebagai TKW (Tenaga Kerja Wanita) di Arab Saudi.


Diduga, api mulai berkobar dari lentera yang jatuh akibat tersenggol kucing atau tikus, karena rumah yang terbuat dari bambu ini tidak menggunakan penerang listrik. Kedua bapak dan anak yang menghuni rumah ini tidak ada di rumah, mereka nyaris tidak menjadi saksi kejadian yang menghabiskan harta bendanya, mereka tiba saat api mulai padam.


Selama api berkobar selama 30 menit, warga di sekitar rumah Akun berjibaku memadamkan jilatan api besar yang mulai menjalar ke rumah lainnya. Kobaran api itu nyaris membakar rumah milik Suhud dan Suhada, karena sisi rumah mereka hangus terjilat api. "Saya sedang berada di luar saat rumah terbakar, semuanya habis kecuali hanya baju yang saya pakai ini," ucapnya sambil memperlihatkan kaos dan celana yang dia pakai.


Sementara itu, armada pemadam kebakaran datang ketika api mulai padam, ini disebabkan lambatnya informasi yang diterima petugas pemadam. Selama menunggu armada pemadam kebakaran, warga menyiram api itu dengan air sumur yang lokasinya bersebelahan dengan rumah yang terbakar. Namun, usaha mereka sia-sia, karena dengan cepat api melalap rumah bambu yang mudah terbakar itu.


Sedangkan Akun hanya bisa pasrah melihat kondisi harta bendanya yang gosong terbakar, hampir tidak ada yang bisa dimanfaatkan lagi kecuali besi-besi ranjang dan sepedanya yang hangus. Siang harinya Akun mengangkut besi untuk dijual ke tukang loak, dia berharap besi-besi sisa dari kawat-kawat rumahnya itu bisa diuangkan. Tetangganya hanya bisa meratapi kesedihan Akun yang dikenal punya pekerjaan pas-pasan sebagai penarik becak di pasar Rengasdengklok. (spn)

Lagi, Mayat Tanpa Identitas Terapung di Sungai Dengklok

Saturday, October 10, 2009

RENGASDENGKLOK, RAKA - Lagi, ditemukan mayat tak dikenal di saluran irgasi KW 12, Jumat (9/10) pukul 09.00 WIB di Dusun Bedeng RT 48/10, Kecamatan Rengasdengklok, mayat ini diperkirakan berumur 40 tahun dengan tinggi badan 170 cm, warna kulit sawo matang, berambut gimbal memakai celana pendek warna coklat dan kemeja lengan panjang. Diduga, dia tewas terpeleset saat akan mandi dan tidak bisa berenang.
Menurut saksi mata, Alinurdin (50) warga Sasak RT 12/05, Desa Amansari Kecamatan Rengasdengklok, sekitar pukul 9.00 WIB dia melihat sosok mayat terapung di irigasi yang tersangkut di pintu air KW 12, Dusun Bedeng, Desa Amansari, karena khawatir terbawa air, akhirnya mayat itu diangkat oleh aparat desa setempat kemudian melaporkan penemuan itu ke Polsek Rengasdengklok.
Kabar mayat tenggelam di saluran irigasi di Rengasdengklok ini bukan hal biasa, dalam kurun waktu satu bulan sudah beberapa mayat ditemukan terapung di saluran irigasi, diantaranya mayat tanpa identitas. Setelah mayat diidentifikasi oleh anggota Polsek Rengasdengklok, sosok tak dikenal ini di bawa ke RSUD Karawang oleh Tim Identifikasi Polres Karawang.
 
Sementara itu, Kapolsek Rengasdengklok AKP Muji Harja menghimbau kepada warga masyarakat, jika ada yang kehilangan sanak saudaranya supaya segera melapor ke Polsek Rengasdengklok atau langsung ke RSUD Karawang. (spn)

Perusak Polsek Pedes Diburu

Thursday, October 1, 2009

*Warga Dongkal Minta Perlindungan Polres


PEDES, RAKA - Aktivitas masyarakat Desa Dongkal, Kecamatan Pedes, tampak normal pasca serbuan warga ke kantor polisi setempat. Kendati begitu, warga Desa Dongkal akhirnya meminta klarifikasi karena merasa aksi yang dilakukan massa tersebut adalah bukan mengatasnamakan warga Dongkal.


Sementara polisi sendiri sudah melakukan tindakan hukum akibat aksi tersebut. Tindakan itu sendiri dilakukan karena dipicu aksi perusakan kantor Polsek dan beberapa barang pribadi warga Desa Payungsari, kecamatan Pedes. Dan itu, memaksa para penegak hukum harus bertindak tegas.


Hal itu, diakui sebagai kesalahan oleh salah seorang tokoh masyarakat Desa dongkal, Kecamatan Pedes H. Ujang jupri (45) di dampingi Umar (50) Kepada RAKA, Rabu (30/9) kemarin. Menurutnya, Masyarakat siap untuk membantu pekerjaan para penegak hukum di wilayahnya sekarang ini. Namun begitu, pihaknya dan sejumlah tokoh masyarakat lainnya meminta kepada petugas keamanan agar mengklarifikasi pemberitaan tentang aksi yang dituduhkan kepada warga Dongkal.


"Sebenarnya aksi yang terjadi pada malam itu, dilakukan oleh warga Desa Kendal Jaya yang kebetulan bersebelahan dengan Desa Dongkal. Sebab, sering kali kejadian yang kurang baik muncul opini dikalangan masyarakat sebagai aksi warga Dongkal," ungkapnya.


Dijelaskannya, sebagai warga Desa Dongkal, pihaknya merasa terganggu. Bahkan, akibat opini yang negatif terhadap Desa Dongkal beberapa usaha ekonomi yang dilakukan oleh warga Dongkal mendapat ganjalan. "Sering kali beberapa warga Dongkal yang meminta kepercayaan untuk melakukan suatu usaha ekonomi kurang mendapat kepercayaan akibat tercoreng opini yang negatif, "tukasnya.


Tokoh masyarakat lainnya, Heri (30) membenarkan hal itu. Ditambahkannya, bahwa pihaknya meminta kepada para penegak hukum agar hal seperti ini, tidak terulang kembali. Dikhawatirkan, bakal ada warga tidak bersalah justru menjadi korbannya."Dasarnya, kami dan warga Dongkal lainnya hanya mendengar bahwa warga Desa Kendal Jaya merasa geram dengan maraknya aksi pembegalan sepeda motor di jalan desanya, "tegasnya.


Secara terpisah, ketika dikonfirmasi mengenai klarifikasi tersebut, Kapolsek Pedes, AKP Agus Suwarsono belum bisa memberi keterangan karena sedang melakukan patroli ke Desa Kendal Jaya, Kecamatan Pedes. "Pak Kapolsek sedang manuju ke lokasi,"ucap anggotanya di kantor Polsek Pedes.


Sementara itu hingga kemarin, polisi masih mencari para pelaku yang menyerang Polsek Pedes pada Senin (28/9) malam lalu. Polisi mengepung dua desa yaitu Dongkal dan Kendaljaya untuk menciduk pelaku anarkis tersebut. Melihat hal itu, kedua warga tersebut cemas dan minta perlindungan hukum pada Polres Karawang, mereka mengaku tidak semua warganya menyerang Polsek Pedes.


Seperti diceritakan warga Dongkal, Suhendri (32), pengepungan desanya oleh polisi membuat keresahan di tengah masyarakat. Dengan begitu, warganya minta perlindungan hukum dari kepolisian terhadap warga yang tidak bersalah. Diakuinya, saat penangkapan polisi melakukan kekerasan terhadap warga. "Saya minta perlindungan hukum masyarakat, jangan sampai polisi salah tangkap," katanya.


Kata dia, perusuh yang sebenarnya bukan warga Desa Dongkal, tapi warga Desa Kendaljaya. Kepada RAKA, dia mengungkapkan kekecewaannya kepada polisi dan kepada wartawan yang memberitakan kejadian itu. Dengan berbagai alasan, dia mengungkapkan kejadian itu memang pantas dilakukan, mengingat banyak terjadi curanmor hampir di sepanjang Jalan Raya Pedes pada malam hari. Aksi tersebut, lanjutnya, sebagai protes yang menganggap polisi tidak mampu mengamankan jalan raya dari aksi curanmor.


Pasca penyerangan kantor Polsek Pedes oleh warga Desa Dongkal dan Kendal Jaya itu, kedua warga Desa Payungsari dan Karangjaya mengecam perbuatan tersebut, mereka akan siap membantu kepolisian jika kejadian itu terulang lagi, karena perbuatan anarkis itu tidak hanya melanggar hukum, tapi nyata-nyata telah merugikan warga setempat. Buktinya satu mobil yang diparkir dirusak termasuk warung-warung dan bengkel motor setempat.


Para tokoh agama dan masyarakat beberapa desa sekitar mengutuk tindakan anarkis tersebut, apalagi mereka melakukan perbuatan itu kepada kantor penegak hukum yang seharusnya dijaga dan dibantu agar tindakan kriminal di daerah bisa berkurang. Apalagi perusuh itu telah melecehkan hukum dan berniat akan menghakimi sendiri orang yang diduga pelaku curanmor yang saat itu sedang diintograsi polisi.


Kata warga Pedes, Warsono (40) mengatakan, tindakan polisi sudah profesional, terbukti dari cara Kapolsek Pedes AKP Agus Suwarsono yang menangani kedatangan massa dengan baik, bahkan sampai dikasih minum dan uang agar mereka membubarkan diri dan menyerahkan kejadian ini ke penegak hukum, ini agar pelaku curanmor ditindak tegas.


Namun sangat disayangkan, kebaikan polisi justru dibalas dengan perbuatan anarkis, sehingga membuat warga setempat pun terpancing emosi dengan perlakuan menyerang terang-terangan kepada polisi dan merusak. Awal tembakan terjadi, akibat massa anarkis itu mulai melempari kantor Polsek Pedes dengan batu dan membakar ban. Akhirnya, polisi pun buang tembakan ke udara untuk membubarkan mereka.


Hal senada diungkapkan warga Sungaibuntu, Cartiman (55), setelah lebaran memang pencurian motor dan pembegalan sering terjadi namun akibat kesigapan aparat penegak hukum para pelaku satu persatu dapat di tangkap. Dia pun mengutuk tindakan main hakim sendiri oleh massa. Perbuatan anarkis itu berarti jelas tidak menghargai polisi dan hukum yang berlaku. Masyarakat berharap agar polisi menindak tegas para perusuh yang mengganggu ketentraman dan kenyamanan. Dan warga pun akan siap membantu polisi jika kejadian serupa terulang. (spn/sigit)

Warga Dongkal dan Kendaljaya Serang Polsek Pedes

Wednesday, September 30, 2009



PEDES, RAKA - Dar der dor, polisi terpaksa buang tembakan puluhan kali ke udara untuk membubarkan ratusan warga Desa Dongkal dan Kendaljaya yang hendak merusak kantor Polsek Pedes, Senin (28/9) pukul 23.01 WIB. Masa yang anarkis ini pun merusak barang milik warga Pedes sebagai pelampiasan kemarahan mereka. Warga Dongkal ini meminta polisi untuk mengeluarkan orang yang diduga sebagai perampok motor yang mereka cari.


Pengejaran pun tak terelakan, beberapa anggota polisi berlari mengejar puluhan motor dua warga itu yang memadati jalan raya. Selain polisi, warga Pedes yang geram melihat perbuatan anarkis tersebut jadi ikut turun tangan untuk mengusir warga Dongkal yang marah akibat tuntutannya tidak dikabulkan polisi. Akibat desakan polisi dengan letusan tembakan berulang-ulang dan dibantu warga Pedes, akhirnya ratusan masa itu bisa dibubarkan setelah berjam-jam mengganggu kenyamanan warga Pedes.


Semua warga Pedes yang terusik istrirahat malamnya akibat bising raungan motor itu menyesalkan perbuatan perusuh yang merusak aset milik warga Pedes, seperti menghancurkan mobil yang parkir, warung-warung dan mengambil beberapa ban motor dari salah satu bengkel dengan membakarnya di tengah jalan. Kegeraman mulai memuncak ketika ratusan masa ini hendak merusak milik warga Pedes yang jadi sasaran kemarahan para perusuh ini.


Padahal, selama berjam-jam aksi warga yang membakar ban dan memblokir jalan raya itu hanya jadi tontonan warga Pedes. Caci makian perusuh ini hanya dianggap cemoohan yang ditujukan pada polisi. Ratusan masa ini memaksa polisi mengeluarkan orang yang mereka anggap pelaku curanmor, mereka menduga orang itu adalah yang mengambil dan menganiaya tiga warganya hingga babak belur. Namun, tindakan warga dua desa ini malah menyulut kemarahan warga Pedes yang awalnya hanya sebagai penonton setelah warga Dongkal dan Kendaljaya melakukan pengrusakan.


Aksi ini berawal kecurigaan masyarakat dua desa itu yang menduga pelaku curanmor tertangkap dan sedang diintrograsi polisi, padahal orang tersebut adalah pemilik kendaraan yang digunakan pelaku yang sampai saat ini pelakunya masih DPO (Daftar Pencarian Orang). Meski sudah dijelaskan berulang kali oleh polisi, ratusan masa itu tetap tidak mau mengerti, mereka tetap menganggap orang yang sedang diproses polisi itu adalah pelaku utama curanmor.


Ratusan masa itu mulai berunjuk rasa di depan kantor Polsek Pedes sekitar pukul 19.00 WIB, aksi itu mampu dihalau setelah polisi menjelaskan tuntutan mereka. Namun, sekitar pukul 22.00 WIB masa tersebut kembali datang dengan jumlah yang lebih banyak dengan tuntutan sama.


Dengan sabar polisi menghadapi ratusan orang yang diperkirakan mayoritas remaja. Puluhan motor itu diraungkan di tengah jalan sebagai aksi protes pada polisi. Terlihat, aksi mereka di depan kantor polisi dan Koramil Pedes itu seolah tidak menghargai hukum, mereka mencaci polisi dengan menantang. Setelah itu, kesabaran polisi pun habis ketika pelaku anarkis ini dianggap mengganggu keamanan dan kenyamanan warga setempat.


Dijelaskan dua warga Dongkal, beberapa waktu lalu tiga remaja Dongkal yang sedang melintasi jalan Raya Pedes yang sepi dibegal motornya oleh sembilan kawanan perampok. Ketiganya luka parah meski salah satunya berusaha melawan. Peristiwa mengenaskan itu lah yang jadi alasan warga Dongkal dan Kendaljaya mendatangi Polsek Pedes untuk menghajar habis orang yang diduga pelaku curanmor tersebut.


Hingga Selasa (29/9), satu SSK (Satuan Setingkat Kompi) Polres Karawang berjaga di Polsek Pedes untuk mengantisipasi kerusuhan susulan. Sejumlah polisi langsung diturukan ke Desa Dongkal untuk menyisir pelaku-pelaku kerusuhan semalam. Sampai jam 14.00 WIB baru sembilan pelaku yang diduga sebagai provokator, mereka diamankan Polres Karawang, kesembilan orang itu diciduk hanya beberapa jam setelah kejadian untuk dimintai keterangan. Tidak hanya sembilan saja, polisi tetap terus memburu para provokator tersebut. (spn)

Anjlok, Beko Tercebur ke Sungai

Monday, August 31, 2009


KARAWANG NEWS - Sebuah alat keruk terjungkal dan masuk sungai di Dusun Bedeng, RT 07/02, Desa Kutajaya, Kecamatan Kutawaluya, Sabtu (29/8) pukul 20.00 WIB. Alat keruk ini adalah satu dari sejumlah alat serupa yang bekerja mengangkat sedimentasi lumpur di semua sungai wilayah Karawang beberapa pekan ini. Alat keruk bernomor body PC 200 LC ini tercebur ketika akan naik truk trailer untuk dipindahkan.
 
Beberapa warga mengatakan, beko ini terjungkal dan masuk sungai karena posisinya miring ketika dinaikan ke atas truk trailer. Posisi beko terlalu menepi, sebelah rodanya anjlok dan kemudian tercebur. Rencananya beko ini akan diangkut ke Desa Kutamukti, Kecamatan Pedes. Dan meski tidak ada korban jiwa pada peristiwa tersebut, kontraktor PT Arya Bangun Putra Sejati Bandung ini diperkirakan harus merogoh Rp 56 juta untuk menyewa alat derek. Seperti dijelaskan staf Pengawas BBWS (Balai Besar Wilayah Sungai ) Citarum, Jaenal didampingi Ir. Didi Supriadi saat ditemui dilokasi kejadian.
 
Menurut Jaenal, terendamnya beko di dasar sungai bisa mengakibatkan kerusakan mesin. Untuk itu, beko ini harus segera diangkat supaya mesinnya tidak kemasukan air. Namun demikian, ketika beko ini tercebur, terlihat mesinnya tidak terendam air. Kata Jaenal, kerugian sementara baru sebatas biaya alat derek untuk mengangkat alat keruk ini dari dasar sungai, biaya itu belum termasuk kerusakan bekonya. "Saya lihat tidak ada kerusakan pada mesin beko, sebab mesinnya tidak terendam air sungai," paparnya.
 
Warga setempat, Dadang (45) mengatakan, beko itu tercebur ketika semua warga sedang menjalankan sholat tarawih, suara jeritan warga yang menyaksikan dan benda besar tercebur membuat semuanya kaget dan berhamburan ke lokasi kejadian. Beko yang tergelincir itu rencananya akan di bawa ke tempat lain untuk mengeruk sedimentasi lumpur yang dianggap lebih banyak, setelah usai mengeruk di Desa Kutajaya.
 
Hal senada dikatakan warga lainnya, Ansori (27), terceburnya beko ke sungai ini kemungkinan disebabkan saat menaikan alat berat itu kurang cermat, akibatnya sebelah roda beko tergelincir, gelap malam juga kemungkinan jadi penyebab kecelakaan ini. Diketahui, penggunaan truk trailer untuk memindahkan beko merupakan antisipasi kerusakan mesin beko.
 
Jarak tempuh mesin keruk ini memiliki batas, selain untuk mengurangi kerusakan pada badan jalan oleh gerigi roda besi beko, pemindahan alat beko ini harus dilakukan secara manual dan roda beko dijalankan dengan menggunakan daya hidrolik. Seperti terlihat, sepekan ini semua saluran air induk dan sekunder di beberapa kecamatan daerah utara Karawang dikeruk mesin beko. Sejumlah mesin beko ini mengeruk endapan lumpur sungai. Sedangkan lumpur yang diangkat beko dimanfaatkan warga setempat untuk mengarug pekarangan rumah mereka.
 
 
Pengerukan ini atas usulan Pemda Karawang kepada Pemerintah Pusat, mengingat setiap tahun daerah di ujung Karawang selalu kekurangan air untuk pertanian, kekurangan air ini akibat penyempitan saluran oleh sedimentasi lumpur. Untuk itu, mesin beko dikerahkan untuk mengeruk tanah sungai, terhitung sejumlah beko terlihat di setiap kilo meter jalan raya dengan jarak yang tidak terlalu jauh. Beko-beko itu dikerahkan untuk menyelesaikan tengat waktu pengerukan. Dan hingga berita ini diturunkan, beko tersebut belum diangkat dari dasar sungai. (*)

Warga Tirtajaya Tewas di Arab

Wednesday, August 26, 2009

TIRTAJAYA, RAKA - H. Sakim Bin H. Soleh (57) warga RT 06/02, Dusun Gempol Jaya, Desa Gempol Karya, Kecamatan Tirtajaya meninggal di Arab Saudi. Hingga kemarin, belum diketahui penyebab kematiannya dan pihak keluarga hanya mendapat kabar duka cita ini langsung dari majikannya melalui KJRI (Konsultan Jendral Republik Indonesia) di Jeddah pada tanggal Sabtu (1/8) sore. Hingga sekarang, mayatnya sedang diupayakan agar bisa dipulangkan ke Indonesia.
Diketahui, almarhum sudah bekerja selama dua bulan sebagai sopir di tanah Arab, ia berangkat melalui PT. Johara Perdana Satu di Jatinegara Timur, No 84 Jakarta Timur, ia meninggalkan istri bernama Carno (50) dan 5 anak. Pihak keluarga pun masih mempertanyakan penyebab kematian H. Sakim.
Kepala Desa Gempol Karya, Acep membenarkan ada warganya yang meninggal di Arab Saudi sebagai TKI, sepengetahuannya sebelum berangkat H. Sakim Bin H Soleh sempat datang ke kantor desa untuk mengurus KTP, almarhum pernah mengatakan akan pergi ke Arab Saudi sebagai sebagai tenaga sopir. "Awalnya saya pun heran, kenapa H. Sakim yang sudah berusia 57 tahun masih bisa sebagai TKW," ucapnya.
 
Kades Acep sempat mempertanyakan, apakah umur tidak menjadi syarat mutlak sebagai TKI, karena seharusnya pihak PJTKI harus lebih jeli dalam menerima TKI, apalagi yang sudah berusia lanjut. Kata Acep, banyak TKI yang memanipulasi data pribadi, biasanya hal ini dilakukan kedua pihak, tenaga kerja itu sendiri dan PT yang memberangkatkan.
Lebih lanjut Acep mengatakan, persyaratan menjadi TKI harus memiliki akte kelahiran, KK (Kartu Keluarga), KTP (Kartu Tanda Penduduk) dan ijin keluarga, karena syarat ini untuk membuat pasport. Namun terkadang PT yang tidak memiliki perwakilan di Arab Saudi bisa memberangkatkan tenaga kerja ini tanpa peduli jika terjadi persoalan yang menimpa TKI.
 
Beberapa kerabat almarhum menceritakan, beberapa bulan sebelum berangkat H. Sakim pernah dirawat di Rumah Sakit Karawang, karena mengidap gejala struk, memang baginya bekerja jadi TKI bukan baru pertama kali tetapi sudah 3 kali pulang-pergi ke Arab. (spn)

Sopir Ngantuk, Truk Seruduk Warung

Saturday, August 22, 2009

Mobil box yang telah dievakuasi setelah terjerumus ke parit.
 
KARAWANG NEWS - Mobil box terjerumus ke parit setelah menabrak warung kopi di Jalan Pacing, Desa Dewisari, Kecamatan Rengasdengklok, Jumat (21/9) pukul 13.00 WIB. Akibatnya, warung hancur dan isi muatan mobil tersebut berhamburan. Pada kejadian itu, sopir Anas (28) luka-luka dan dibawa ke RSUD Karawang, sedangkan pemilik warung hanya 'shock' karena tidak menduga warungnya yang berada di pinggir jalan itu ditubruk mobil nyasar.
 
Mobil box nopol B 9573 YT ini melaju dari arah Batujaya menuju Rengasdengklok dengan kecepatan tinggi. Kondisi jalan yang rusak dan licin membuat sopir sulit mengendalikan kendaraannya itu, sebelum menabrak warung sopir sempat membanting stir ke arah jalan kosong, tapi karena beban kendaraan terlalu berat akhirnya sopir sulit menguasai kendaraannya dan akhirnya oleng ke arah saluran air sekunder, tapi sebelumnya truk itu menumbruk warung setempat hingga hancur berantakan.
 
Melihat hal itu, warga langsung berusaha menolong, terutama sopir truk yang kesakitan, tapi tidak sedikit dari anak-anak setempat yang mengambil makanan yang berceceran dari dalam mobil tersebut. Namun hal itu langsung diantisipasi aparat desa, untuk kemudian isi muatan truk ini diamankan ke Polsek Rengasdengklok dengan kendaraan lain.
 
Saksi mata mengatakan, sopir truk terlihat ngantuk sebelum terperosok ke saluran air. Sementara itu, pemilik warung Julianti (31) warga RT 07/03, Dusun Pacing Utara, Desa Dewisari menceritakan, ketika dia melihat truk melaju kencang ke arahnya, ibu dua anak ini langsung terperanjat dan sempat menghindar, tapi dia tidak mengalami luka sedikit pun. Dia hanya kerugian 40 liter bensin dalam botol-botol yang pecah tertabrak dan sebagian atap warungnya yang hancur. Selain itu, tiang telkom pun tak luput dihantam mobil nyasar ini hingga tumbang. (*)

Motor Disita, Kolektor Diadukan Warga ke Polisi

Friday, August 21, 2009

 
RENGASDENGKLOK, RAKA - Tak sedikit kolektor motor merampas kendaraan bermasalah di tengah jalan, selain membuat geram warga, perilaku seperti itu sebenarnya tidak dianjurkan oleh pihak finance. Memang kenyataannya pemilik kendaraan itu tidak melengkapi administrasi, tapi cara kolektor itu dianggap warga seperti perampok di siang bolong.
 
Seperti diungkapkan warga Desa Kalidungjaya, Kecamatan Cibuaya, Snin (45), putranya terpaksa harus pulang ngojek, karena motor yang dibawanya untuk belanja dihadang kolektor FIF. Diakui Snin, motor tersebut memang gadean dan baru diketahui bermasalah ketika pemiliknya bercerita memang tidak salah kolektor mengambil motornya, karena dia menunggak. "Apa pun alasannya, harusnya kolektor itu mengambil motornya langsung dari pemilik pertama, jangan merebut begitu saja di tengah jalan," ujarnya kepada RAKA, Kamis (20/8) siang.
 
Hal senada dikatakan Janam (43), motor gadeannya diambil paksa ketika dibawa anaknya sekolah. Awalnya Janam mengira anaknya dirampok, tapi setelah anaknya menunjukan surat pencabutan motornya, barulah dia percaya dan langsung menelusuri ke kantor finance tempat motor itu dikeluarkan. Disana, dia melihat motor itu ada dan kemudian pulang untuk meminta uang gadeannya dikembalikan dari pemilik motor tersebut. "Yang tidak saya suka itu caranya merampas motor ketika sedang di pakai, bahkan ada tukang dagang yang keranjangnya diturunkan," paparnya.
 
Akibat sering terjadi hal seperti itu, eksekutor motor ini dieksekusi lagi oleh warga, beberapa kolektor dilaporkan ke Polsek Rengasdengklok, Rabu (19/8) siang. Kejadian itu berawal saat seorang ojeg warga RT 02/01, Dusun Krajan, Desa Malangsari, Kecamatan Pedes, Irom Bin Inang (38) motornya dirampas kolektor dari WOM Finance di depan gudang Dolog Cikangkung, Rengasdengklok. Diakui Irom, motor HONDA Supra Fit Jumbo yang dipakainya adalah motor gadaian.
 
Hal sama dialami Burhan Bin Empe warga Dusun Pengkolan, RT 01/02, Desa Kertamulya, Kecamatan Pedes, motornya disita ditempat yang sama seperti yang dialami Irom, ia pun mengeluhkan cara kolektor tersebut yang memaksa mengambil kendaraan yang dia pakai untuk keperluan penting. Kata Burhan, selain kendaraan yang disita mereka juga melakukan kekerasan untuk memaksanya melepas motor tersebut.
 
Setelah warga melaporkan ketidak senangannya terhadap kolektor itu, maka anggota polisi Rengasdengklok menjemput pekerja finance itu di lokasi mereka menghentikan motor-motor bermasalah di Cikangkung, Rengasdengklok dan menggiringnya ke Polsek setempat, beberapa lama kemudian kolektor itu dibawa ke Polres Karawang untuk diamankan, mengingat masa di halaman Polsek Rengasdengklok semakin bertambah setelah mendengar ada sang eksekutor motor dibekuk polisi.
 
Sementara itu, pengakuan seorang Karyawan WOM Finance, Hasan (37), kalau pihaknya berharap para kolektor itu mengarahkan pengguna motor-motor bermasalah ke kantornya, tujuannya agar kendaraan tersebut dapat diproses. "Banyak masyarakat yang menggadai motor bermasalah pun tidak teliti terlebih dulu. Harusnya diketahui, apakah kendaraan tersebut punya hutang kreditnya atau sudah lunas. Saya harap, masyarakat jangan menggadai atau membeli kendaraan yang tidak surat-suratnya tidak komplit," jelasnya. (spn)

Petani Tewas Menghirup Racun Hama

Thursday, August 13, 2009

KARAWANG NEWS - Seorang petani Dusun Tegal Asem RT 11/05, Desa Kertasari, Kecamatan Rengasdengklok, Jaja Jaenudin Bin Anisan (47) tewas seketika di pematang sawahnya akibat menghirup racun pembasmi hama ketika dia menyemprotkan racun tersebut, Rabu (12/8) pukul 09.00 WIB.
 
Diduga, Jaja meninggal karena tidak menggunakan masker sebelum menyemprotkan racun hama itu, beberapa tetangganya menyebutkan dia tidak kurang memahami pentingnya menggunakan masker saat menyemprot sawah, sehingga percikan air racun hama yang disemprotkan itu terhisap hingga menyesakan dadan dan Jaja meninggal dunia seketika di atas pematang sawahnya.
 
Dia dikenal tetangganya memang sebagai penjahit pakaian di Pasar Rengasdengklok dan dia pun memiliki sebidang sawah seluas 2000 meter persegi, karena padinya terlihat sedang terserang hama, maka Jaja melakukan penyemprotan untuk membasmi hama tersebut seorang diri.
Keterangan meninggalnya Jaja akibat racun hama sawah diperkuat hasil pemeriksaan medis Puskesmas Rengasdengklok. Setelah diperiksa Jaja memang menghirup udara yang bercampur racun hama padi saat sedang melakukan penyemprotan. Obat yang dipergunakannya yaitu Spontan 400 SL dan Top Score Plus ZPT (Zeberlin) sebanyak 1000 mili liter, obat sawah itu adalh pembasmi hama dan perangsang tumbuhan yang dibeli dari kios di Pasar Rengasdengklok.
Jaja pertama kali terlihat tergeletak di pematang sawah oleh seorang warga yang sedang mencari keong untuk pakan ternak, Eman (60). Kata Eman, dia sedang menyusuri pematang-pematang sawah untuk mencari keong, tapi dia kaget setelah melihat Jaja tergeletak tak bernyawa, lalu ia pun lari ke perkampungan untuk memberitahukan kepada warga setempat mengenai temuannya di tengah sawah, kontan warga setempat berlarian ke sawah kemudian membawa Jaja ke rumahnya. Di rumahnya, Jaja di tangisi keluarganya, setelah mereka mengetahui Jaja tak bernyawa.
 
Menurut keterangan istrinya, Leti (40) Jaja pergi ke sawah sekitar pukul 07.00 WIB setelah minum kopi dan makan roti, ia pamitan untuk menyemprot sawahnya dengan racun hama. Dan dua jam kemudian, malah datang tetangga-tetangganya memberi tahu jika suminya meninggal dunia di tengah sawah akibat racun hama yang terhisap ketika menyempot sawah.
Paparan keluarga korban, Saepudin (35), saat di temukan Jaja langsung dibawa pulang ke rumah untuk kemudian dilarikan ke rumah sakit, tapi itu terlambat karena Jaja telah mengehembuskan nafas terakhir di tengah sawah. Sore harinya, Jaja dikebumikan di pemakaman keluarga. (*)

Suami-Istri Tewas Dilalap Sijago Merah

Saturday, August 1, 2009

Tabung gas elpiji 3 kg yang diduga penyebab kebakaran.
 
 
RENGASDENGKLOK, RAKA - Dua rumah di Dusun Krajan, RT 05/08, Desa Rengasdengklok Utara, Kecamatan Rengasdengklok ludes dilalap si jago merah, Kamis (30/7) pukul 21.30 WIB, satu pasangan suami-istri tewas terbakar hingga hangus akibat terperangkap disudut kamar mandi rumahnya ketika berusaha menyelamatkan diri. Ketika ditemukan bahkan kedua jasadnya sudah sulit dikenali.
 
Korban tewas itu bernama Uhi Ruhiyat (61) bersama istri tercintanya Dedeh (48) yang kesehariannya dikenal sebagai pedagang kue di pasar Rengasdengklok. Menurut keterangan warga setempat, saat kejadian Uhi berada diluar rumah, namun ketika mendengar teriakan istrinya di dalam kobaran api yang melalap rumahnya, maka ia pun berusaha menolong istrinya, tapi naas keduanya terperangkap dan tidak bisa melarikan diri ke luar rumah ketika kobaran api semakin membesar, keduanya tidak tertolong dan tewas seketika.
Sementara warga berjibaku memadamkan api yang dikhawatirkan akan merambat ke rumah lainnya, di dalam rumah yang terbakar, pasangan suami-istri itu saling berpelukan disaat detik-detik menjelang kematiannya. Sedangkan warga terus berusaha memadamkan api dengan alat seadanya, karena armada pemadam kebakaran terlambat datang ke lokasi kejadian. Bahkan, armada kebakaran yang sudah siaga di Rengasdengklok sulit menjangkau lokasi kebakaran, mengingat lokasinya berada di tengah pemukiman. Setelah berusaha masuk dan tidak bisa mendekati rumah yang terbakar, akhirnya armada tersebut memadamkan api dengan menyemprotkan air keatas melewati atap rumah warga dengan tetap mengarahkan air pada kobaran api.
 
Api bisa dijinakan dua jam kemudian, namun telah menghanguskan dua rumah. Rumah kedua yang terbakar yaitu milik Apad Bin H. Sanusi (50). Hasil penyelidikan sementara, pihak kepolisian menduga kebakaran ini akibat kompor gas yang meledak akibat tabung 3 kg bocor saat menyala dan menyemburkan api besar sehingga membakar dua rumah. Kejadian ini meninggalkan duka mendalam bagi keluarga korban. Padahal, menurut keterangan warga setempat, rencananya Senin (3/8) besok, korban akan menikahkan anak lelakinya yang bernama Deni. (spn)

Bendungan Walahar Jebol

Saturday, March 28, 2009




KLARI, RAKA - Karawang geger. Bendungan Walahar yang menampung air limpasan Sungai Citarum dinyatakan jebol. Tidak ada korban jiwa memang namun sempat menciptakan kepanikan ditengah masyarakat. Bahkan sebagian dikabarkan sudah bersiap-siap akan mengungsi.


Berdasarkan pantuan yang dihimpun RAKA bagian bendungan yang mengalami kejebolan adalah pintu sebelah utara bendungan. Dinformasikan, kejadian ini terjadi pada Selasa (24/3) sekitar pukul 11.30 WIB. Sejumlah warga mengungkapkan mereka sempat panik karena khawatir jebolnya bendungan akan mengakibatkan banjir di sejumlah desa seputaran bendungan.


Sa'i (53) salah seorang warga Walahar pada RAKA saat ditemui dilokasi kejadian mengakui itu. Dia malah menuturkan pada saat kejadian, sempat terdengar ada suara kencang seperti guntur sebanyak tiga kali. Awalnya dirinya tidak menyangka bahwa suara tersebut berasal dari pintu bendungan walahar.


Setelah terdengar suara itu, ada teriakan dari orang yang sedang memancing di depan pintu bendungan walahar. "Orang yang memancing langsung berteriak 'walahar jebol' sambil berlari menyelamatkan diri. Saya tidak tahu secara pasti kenapa bendungan itu bisa jebol, mungkin tekanan dari debit air yang tinggi atau apa saya gak ngerti," katanya.


Sa'i merasa bersyukur pada kejadian itu tidak menimbulkan korban jiwa walaupun ada beberapa orang yang sedang memancing di bawah jembatan tersebut, pemancing tersebut berhasil menyelamatkan diri. Namun dia menuturkan ada dua orang anak berusia 6 tahun dan 19 tahun yang sedang bermain disekitar walahar sempat hanyut terbawa arus tapi akhirnya dapat diselamatkan oleh kakaknya anak tersebut, selain itu satu sepeda motor milik warga yang hanyut terbawa arus. "Biasanya di bawah jembatan orang sering mencuci motor, pada saat kejadian pemilik motor tersebut tidak dapat menyelematkan motornya itu," terangnya.


Sementara itu, Slamet BE, Kepala Divisi II perum Jasa Tirta saat dikonfirmasi mengatakan, pihaknya belum bisa memastikan penyebab utama jebolnya pintu air tersebut pihaknya akan melakukan terlebih dahulu penyebab utama kejadian ini. Namun untuk sementara pihaknya memprediksi kejadian tersebut terjadi karena kelemahan struktur pintu tersebut. "Pintu ini sudah lama belum dilakukan perbaikan, kemungkinan akibat sudah lamanya pintu tersebut material yang ada sudah kelelahan sehingga tidak dapat lagi menahan arus air yang ada. Kami juga belum bisa memastikan kerugian yang kami alami," jelasnya pada RAKA.


Jembatan tersebut, lanjutnya, memiliki lima pintu dan masing-masing pintu memiliki panjang 15 hingga 20 meter, dengan jebolnya pintu bendungan tersebut, diperkirakan pasokan air untuk pesawahan, perusahaan dan PAM akan mengalami kendala. Namum pihaknya memastikan bahwa pasokan air tersebut tidak akan sampai tidak terpasok, pasalnya saat ini pihaknya telah melakukan langkah antisipatif.


"Pintu tersebut tidak memiliki cadangan, namun kami akan menurunkan stop log, untuk mengatur air yang keluar, sehingga pasokan air untuk pertanian maupun perusahaan bisa tetap terpenuhi. Kami pastikan dari kejadian ini tidak ada daerah yang kebanjiran, "terangnya.


Kejadian ini, tuturnya baru terjadi saat ini, pintu bendungan ini sempat mengalami perbaikan. Namun sudah cukup lama sampai saat jebolnya tanggul ini belum diadakan perbaikan lagi, perbaikan yang sering dilakukan hanya bagian luar saja, untuk bagian dalam pihaknya jarang melakukan pemeriksaan. Pihaknya telah mengajukan perbaikan dan ajuan tersebut telah diakomodir oleh balai besar walahar sungai citarum (BBWSC). "Kalau bahan materialnya ada, kemungkinan perbaikan akan memakan waktu kurang lebih dua bulan, dikhawatirkan kami kesulitan materialnya karena materialnya merupakan bahan yang lama, "terangnya.(marsyahid/RAKA)

Tukang Becak Tewas Tertabrak

Saturday, August 23, 2008



JAYAKERTA, RAKA - Tragis! Seorang tukang becak tewas seketika setelah dihajar angkot Jurusan Batujaya - Rengasdengklok, Senin (11/8). Sebelum tewas korban sempat terpental dan tersungkur di pinggir sungai. Sementara pihak kepolisian hingga kemain masih melakukan pengejaran terhadap tersangka.

Korban adalah Inem Bin Perit (50) warga RT 13/05, Dusun Bubulak, Desa Medang Asem, Kecamatan Jayakerta. Sekitar pukul 05.30 WIB becak yang dikendarainya ditabrak mobil tak dikenal. Sebagian saksi mata menduga, kendaraan itu adalah angkutan umum jurusan Batujaya-Rengasdengklok, sebagian lagi mengatakan mobil pribadi, karena jenisnya kendaraanya serupa.

Dijelaskan tetangganya, seperti hari biasanya Inem pergi ke Pasar Rengasdengklok pukul 05.00 WIB untuk narik becak yang dia sewa Rp 2000/hari dari pemilik becak. Hasil sehari mengayuh becak hingga waktu dzuhur sekitar Rp 13 ribu, tapi tidak jarang dia pulang ke rumah hanya membawa hasil narik becak Rp 5-10 ribu.

Naas, saat kakek lima anak ini kembali ke tempatnya usahanya di Pasar Rengasdengklok, tepat di Jalan Cikangkung becaknya ketabrak mobil dari belakang. Saksi mata mengatakan, Inem terlempar dan tersungkur di tepian sungai, sedangkan becaknya rusak parah. Kaki dan tangan kanannya patah, kepala terbentur lantai jalan yang keras. Dia sempat dilarikan ke RS Proklamasi, tapi sayangnya suami Newi ini tidak tertolong. "Hidung dan mulutnya keluar darah," jelas tetangganya usai memandikan jenazah Inem.

Diketahui, jalan sepanjang Batujaya-Rengasdengklok ini rawan kecelakaan, terlebih banyak diantaranya jalan bergelombang dan amblas yang tidak nampak. Meski begitu, pengendara yang lalu lalang kadang melaju dengan kecepatan tinggi. Apalagi, sepanjang jalan ini hampir tidak ada rambu-rambu lalu lintas. Setiap hari, Inem dan tukang becak lainnya memang sering terlihat di jalan raya ini, mereka menawar jasa pada para penumpang angkutan umum yang turun dari arah Tanjungpura maupun dari arah Batujaya. Kadang, Inem terlihat membawa belanjaan banyak di becaknya, kadang hanya penumpang satu-dua orang mengantar keperluan warga setempat.

Hingga kemarin, kendaraan jenis 'carry' ini masih dalam pengejaran Polsek Rengasdengklok. Saat kejadian, memang jalanan belum terang karena masih pagi, sehingga saksi kejadian tidak melihat jelas jenis kendaraan dan plat nomor, yang mereka tahu mobil itu langsung ngebut dan meninggalkan Inem terkapar bersimbah darah di pinggir saluran induk Rengasdengklok. (spn)

Meluncur dari Pohon Sawo




Pemetik Buah Tewas

JAYAKERTA, RAKA - Nasib nasib dialami Maman (45), warga RT 11/04 Dusun Pawanda, Desa Medang Asem, Kecamatan Jayakerta. Kamis (7/8) sekitar pukul 11.00 WIB, ayah empat anak ini tewas mengenaskan setelah meluncur dari pohon sawo setinggi 20 meter. Sebelum dinyatakan tewas pemetik buah-buahan ini sempat dilarikan ke RSUD Karawang.

Maman tewas sekitar pukul 16.00 WIB. Isak tangis menyelimuti rumah duka, terutama anak tertuanya Reni (18) tak henti berlinang air mata meratapi kepergian ayahnya. Apalagi istrinya Yayah (40) tak kuasa membendung kesedihan, karena pada saat kejadian dia menyaksikan suaminya melayang dari atas pohon dan menghantam tanah kering hingga tulang kaki dan tangan menusuk ke tanah, patah. Istrinya sempat melihat suaminya itu meringis kesakitan, tak tunggu waktu lagi Yayah berteriak minta tolong pada tetangganya. Kemudian Maman dilarikan ke dukun urut di Pedes.

Karena tukang urut tidak menyanggupinya, Maman dibawa ke Puskesmas Medang Asem, Kecamatan Jayakerta. Oleh puskesmas, Maman dirujuk ke RSUD Karawang menggunakan ambulan. Sampai di Unit Gawat Darurat (UGD) RSUD, tubuh Maman tak lagi bisa menahan sakitnya, dia memang mengalami patah tulang serius. Kaki kiri remuk sedangkan yang kanan patah di paha, lalu tangan kanan patah dan dua tulang iga pun patah.

Sebelum meninggal, Maman sempat menanyakan seseorang temannya bernama Amid pada Agus yang saat itu membopongnya. Setelah Agus menjawab bahwa Amid tidak ada, Maman yang terkulai di pelukan Agus ini langsung menghembuskan nafas terakhirnya. Diketahui tetangganya, keseharian Maman adalah sebagai pemanjat pohon buah-buahan, hal itu dilakukannya sebagai nafkah bagi keluarganya. Dia selalu piawai manjat pohon, tapi entah kenapa kemarin Maman naas jatuh dari pohon sawo.

Dia dikenal baik dan tidak pernah mengecewakan tetangganya. Dengan kematiannya ini, para tetangga merasa kehilangan sosok yang dikenal ulet bekerja sebagai tukang petik buah-buahan. Tak, jarang Maman ini sering disuruh untuk memetik buah kelapa, jambu, mangga dan lainnya, karena memang di dusun ini banyak pohon-pohon tersebut. Dan Maman lah ahlinya memanjat pohon. (spn)

Nekad Parkir Truk Kecemplung

Thursday, June 5, 2008


BATUJAYA, RAKA - Nasib sial yang dialami truk sarat batu B 9868 FY mungkin bisa jadi pembelajaran bagi sopir-sopir truk lainnya bila hendak memarkir truknya. Gara-gara nekad parkir di badan jalan yang sempit alhasil truk itupun tercebur ke Saluran Induk di Desa Teluk Bango, Kecamatan Batujaya, Senin (2/6) siang.

Hingga kemarin belum diketahui identitas sopir truk tersebut. Namun berdasarkan informasi truk tersebut bergerak menuju tanggul Citarum yang sedang diperbaiki. Saat akan memasuki jalan sempit mobil ini parkir dan mundur, karena bobot lebih kuat dibanding rem akhirnya truk ini bablas dan kecebur irigasi. "Truk muatan batu itu datang dari arah Rengasdengklok menuju tanggul Citarum yang kini masih dalam perbaikan. Karena truk ini akan masuk jalan kecil maka sopirnya melakukan parkir di tengah jalan. Tapi sial saat sibuk mencari-cari lokasi parkir yang tepat truknya ternyata bablas dan terperosok ke sungai," ungkap Acep saksi mata.

Diketahui, pada Februari 2008 lalu tanggul di Desa Telukbango sempat amblas dan membuat panik warga setempat, tidak lama kemudian pihak pengairan langsung bergegas memperbaiki tanggul yang amblas itu menggunakan alat berat. Sudah sebulan ini, sudah ratusan kubik batuan (bronjong) dipasang sepanjang 50 meter di tanggul itu. Tiap harinya truk-truk pengangkut batu hilir-mudik menambah volume batuan untuk tanggul tersebut.
Sementara itu, hanya beberapa jam truk yang tercebur itu berendam di air irigasi, truk lainnya berusaha mengangkat setelah muatan pada truk yang tercebur itu di angkat untuk mengurangi beban. Dilihat, jalan lingkungan yang menuju tanggul Citarum itu memang tampak sempit, sehingga kendaraan apapun tidak akan bisa belok langsung. (spn)

Usut Tuntas Kematian Lamah

Wednesday, April 23, 2008

Pemakaman TKW yang meninggal di Taiawan, Lamah bin Amat di di Desa Medan Karya, Kecamatan Tirtajaya. Tampak keluarga sangat terpukul dengan nasib tragis yang menimpa TKW sarjana lulusan Unisma Bekasi ini.


TIRTAJAYA, RAKA - Lamah bin Amat (26) TKW asal Desa Medankarya, Kecamatan Tirtajaya yang meninggal di Taiwan dimakamkan, Selasa (22/4) pukul 12.00 WIB di pemakaman keluarganya. Isak tangis tampak menyelimuti keluarga dan kerabat yang selama ini mengenal peringai Alm.Lamah. Doa pengantar dilantuntan untuk keselamatan Lamah di alam baka, setelah dia dinyatakan tewas sebagai pahlawan devisa negara.

Paman sekaligus kuasa hukum Alm.Lamah, Ferdinand Marcos SH menyatakan geram pada pamerintah dan PPJTKI (Perusahaan Pengarah Jasa Tenaga Kerja Indonesia) yang sepertinya memiliki permainan picik terhadap para Tenaga Kerja Wanita (TKW). Seolah mereka diperjakan untuk kepentingan sekolompok tanpa memperdulikan nasi bahkan nyawa para TKW.Dia mengendus ada rangkaian kebohongan pada peristiwa yang dialami Alm. Lamah, yaitu dari ketidak cocokannya surat-surat agancy dan PPJTKI juga keterangan dari Negara Taiwan.

“Ini proses hukum dan tidak bisa sebentar, kami biarkan berjalan sesuai hukum dan siapapuun pelakuknya, kalau terindikasi kriminal maka harus dihukum sesuai aturan negara,” jelasnya menceritakan rangkaian kebohongan ini harus diungkap.

Dia yakin kaitan ini ada hubungannya dengan uang, karena kalau meninggal bunuh diri maka asuransi tidak diganti.Nasib yang dialami Lamah merupakan fenomena gunung es yang harus segera dicarikan jalan pemecahannya. Jika tidak harga diri bangsa kita ditendang-tendang bangsa lain. Marcos juga berharap agar Pemkab Karawang lebih sensitif dan serius lagi jika ada kasus-kasus yang menimpa TKI asal Karawang, karena tidak bisa dipungkiri banyak warga Karawang yang mengadu nasib di negara lain.

Diketahui, Alm.Lamah diduga pihak keluarganya dibunuh. Dan jenazah Lamah datang dengan pesawat China Airlines. Pesawat berangkat dari Taiwan pukul 8.50 waktu setempat. Kepulangan jenazah ini diperoleh setelah pihak keluarga mendapat surat elektronik yang dikirim KDEI (Kamar Dagang dan Ekonomi Indonesia) di Taiwan. Isi surat itu menyebutkan jenasah Lamah bin Amat akan diterbangkan ke Indonesia hari Senin kemarin.

Dijelaskan Marcos, korban diduga dibunuh oleh majikannya karena pahlawan devisa negara itu selalu mendesak majikannya agar segera membayarkan gajinya. Pasalnya, selama tujuh bulan korban bekerja sebagai pembantu rumah tangga (PRT), baru Rp 7 juta gaji yang diterima korban. (spn)

Apa pendapat Anda tentang berita ini? komentar berita Secara otomatis, komentar yang ditulis akan masuk pada dinding Facebook Anda.
 
 
 
 
Copyright © BeritaKarawang.com | Space iklan logo Rp 200 ribu sebulan
Karawang, Jawa Barat, Indonesia, 085691309644, beritakarawang@gmail.com | Asep Saepudin Hasan