Detik-detik Proklamasi Didengungkan Kembali di Tugu Rengasdengklok
posting berita pukul 12:16 AM 0 comments
Labels: sejarah
Kualat, Jika Abaikan Tugu Dengklok

RENGASDENGKLOK, RAKA - Biar anjing menggonggong napak tilas tetap berjalan. Saat ini banyak orang melupakan sejarah Indonesia yang terjadi pada 16 Agustus 1945. Bahkan banyak juga generasi bangsa ini tidak tahu Rengasdengklok. Padahal, daerah itu merupakan tempat singgah Soekarno-Hatta yang diabadikan melalui tugu proklamasi ini merupakan tempat sakral.
Hal itu diungkapian Mayjen TNI (Purn), Drs. H. Herman Saren Sudiro disela acara napak tilas Forum Komunikasi Keluarga Besar Siliwangi di Tugu Proklamasi, baru-baru ini. Menurutnya, jika pejabat dan masyarakat melupakan sejarah bangsa ini, maka semuanya akan kualat.
Ditambahkan Saren, pihaknya akan meminta pada pemerintah, terutama bupati Karawang dan Gubernur Jawa Barat untuk bertanggungjawab melestarikan lokasi sejarah Rengadengklok. Yang lebih berperan dalam hal ini adalah menteri sosial. Sementara, pembangunan tugu proklamasi di Rengasdengklok ini tergantung bupatinya.
Di Indonesia, kata Saren, terdapat empat lokasi sejarah yang sakral, diantaranya Rengasdengklok, Pegangsaan Timur, Rumah Meida dan Pejambon. Tempat sakral bagi bangsa ini bukan Monas ataupun Istana Presiden. Untuk tempat-tempat yang menjadi penentu kemerdekaan bangsa ini harusnya dilestarikan sesuai program pembangunan.
"Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya, tidak akan ada kemerdekaan jika tidak ada peristiwa Rengasdengklok. Jadi jelas, yang harus bertangungjawab adalah pemerintah, sebab kalau tidak melestarikan kota sejarah ini, maka siapa lagi yang akan menjadi saksi kemerdekaan," ucapnya.
Sekarang, tambahnya, banyak yang mengaku sebagai pejuang kemerdekaan, seperti banyak orang gila yang mengaku-ngaku hanya karena ingin mendapat pengharaaan semata. Sedangkan pahlawan yang asli dianggap Saren Sudiro telah wafat. Dia sangat menghkawatirkan generasi bangsa ini akan dibodohi dan dibohongi dengan nama-nama pahlawan yang tidak dikenal tersebut.
"Saya diundang ke Lenteng Agung, katanya A Yani dan Haryono masih hidup. Itu bohong, dia bukan yang asli, saya saksinya. Kalau saya masih hidup seperti sekarang, saya bisa menjelaskan bahwa mereka palsu, tapi bagaimana dengan anak-cucu kita yang tidak tahu menahu," tegasnya.
Dia geram dengan kondisi negara ini yang seolah tidak menghormati para pejuang. Diakuinya, banyak panglima perang kemerdekaan 45, kini hidupnya tidak sebaik darinya. Banyak diantaranya yang terpuruk dan berdagang hingga akhir hayatnya. Kata Saren, untuk perbaikan rumah Bung Karno saja sulit, padahal hanya butuh Rp 150 juta, sedangkan korupsi di negara ini mencapai triliunan rupiah. Ini bukti banyak pejabat saat ini melupakan sejarah bangsa.
"Ingat, kita akan terpuruk dan kualat, siapapun presidennya, jangankan rumah Djiau Kie siong, panglima perang 45 saja banyak yang terusir. Kita dulu berjuang bukan untuk sesuap nasi, tapi memang benar-benar ingin membela negara. Ingat, kita akan merasakan hidup susah jika tidak berterima kasih pada jasa pahlawan, apalagi berada di wilayah Prabu Siliwangi, jadi jangan lupakan napak tilas," ucapnya. (spn)
posting berita pukul 12:13 AM 0 comments
Labels: sejarah
Tuntaskan Pembangunan Situs Proklamasi Dengklok
RENGASDENGKLOK, RAKA – Faktor apa yang menyebabkan pembangunan situs Tugu Proklamasi ini jadi terbengkalai, apakah pemerintah selama ini selalu kekurangan dana ataukah persoalan kisruh antara tanggungjawab pusat dan daerah, ataukah memang tidak ada keinginan untuk menyelesaikannya. Demikian kata Ketua Umum LSM SOMAKA, Dul Jalil SH, kepada RAKA, Jumat (15/8) siang.
Dia menjelaskan, Rengasdengklok merupakan satu kecamatan yang ada di Kabupaten Karawang, secara geograpis Rengasdengklok terletak di karawang bagian utara. Rengasdengklok merupakan simpul bagi kecamatan-kecamatan lain yang ada disekitarnya, kita tahu ada sembilan kecamatan lain yang menggantungkan kegiatan perekonomiannya ke Rengasdengklok. selain itu akses utama dari kecamatan-kecamatan lain di wilayah utara karawang untuk menuju ke kota kabupaten harus melewati kota Rengasdengklok, dua hal inilah yang menyebabkan kenapa kemudian kecamatan Rengasdengklok disebut sebagai simpul dan memiliki arti yang cukup penting bagi kecamatan-kecamatan lain yang ada di bagian utara Karawang.
Kalau kita kilas balik ke belakang ke zaman perang kemerdekaan, maka mata kita akan semakin terbuka lebar bahwa Rengasdengklok ternyata punya peranan yang sangat penting dalam sejarah lahirnya Negara Indonesia. Catatan sejarah yang sangat penting dalam proses merebut kemerdekaan Negara Indonesia adalah bahwa pada tanggal 16 Agustus 1945 dinihari Ir.Soekarno dan Moh. Hatta sempat dibawa secara paksa ke kota Rengasdengklok oleh sekelompok pemuda dari pasukan Pembela Tanah Air (PETA). .
Kemudian di Rengasdengklok inilah Soekarno dan Hatta menyatakan kesediaanya untuk segera memproklamirkan kemerdekaan Negara Indonesia meskipun melalui proses perdebatan yang alot. Sehingga akhirnya pada tanggal 17 Agustus 1945 di Jalan Pegangsaan Timur No. 56 untuk pertama kalinya proklamasi kemerdekaan Negara Indonesia dibacakan oleh Ir. Soekarno.
“Saya kira kalau kita bertanya kepada setiap warga Rengasdengklok apa yang bisa dibanggakan dari daerahnya maka jawabannya sepertinya akan sama yakni bahwa Rengasdengklok adalah kota yang bersejarah. Rengasdengklok adalah titik awal lahirnya Negara yang merdeka dan berdaulat dengan nama Indonesia. Hal ini tidaklah terlalu berlebihan karena memang fakta-fakta sejarah berbicara demikian. Namun yang perlu direnungkan adalah apakah kebanggaan kita terhadap kota Rengasdengklok ini berbanding lurus dengan penghargaan kita terhadap nilai-nilai sejarah sejarah itu sendiri, mari kita sama-sama cari jawabannya,” jelasnya.
Proyek pembangunan museum atau situs Proklamasi Rengasdengklok dimulai pada zaman pasca Reformasi pada periode pemerintahan presiden Megawati Soekarno Putri. Penanggungjawab program adalah dinas pariwisata Kabupaten.Karawang sedangkan pelaksana teknisnya adalah UPTD Cipta Karya.
Kabarnya, sampai saat ini untuk pembuatan jalan alternanif dari terminal Rengasdengklok menuju lapangan Bojong dan untuk pembuatan Pondasi dari pilar-pilar beton telah menghabiskan dana sebesar Rp. 2.000.000.000 dari alokasi total anggaran sebesar Rp.50.000.000.000. Namun pembangunan hanya selesai sampai tahap itu saja, tidak ada tanda-tanda bahwa proses pembangunan akan dilanjutkan. Sebagai warga Rengasdengklok tentu saja kita sangat prihatin melihat kondisi seperti ini, karena pembangunan situs proklamasi tidak bisa dilihat sebagai proyek biasa. Pembangunan situs Proklamasi adalah sebuah penghargaan terhadap nilai-nilai sejarah dan jasa dari para pahlawan. (*spn)
posting berita pukul 11:58 PM 1 comments
Labels: sejarah